Iklan Baris :
Ingin Pasang Iklan, Klik disini - Ingin Koreksi, Klik Teks ini

Mengadirkan KPH Mart, STRATEGI Gubernur MELKY Mengangkat HHBK dari HUTAN ke PASAR

Reporter: Marthen RadjaEditor: Redaksi
CitraNews

Tampak Kludolfus Tuames, Gubernur Melky Laka Lena, Sulastri Rasyid, menepi ke serambi KPH Mart di momentum CFD  Jl. El Tari Kupang, Sabtu (28/3/2026).

Dari Rakor hingga ke arena Car Free Day, Rumah Kecil KPH Mart menggemakan OFOP – One Forest One Product- menuju impian NTT Mart sebagai Rumah Besar.

Citra News.Com, KUPANG – LANGKAH Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menghadirkan gagasan “KPH Mart” sebagai rumah kecil produk kehutanan menjadi sinyal kuat arah baru pengelolaan hutan di Nusa Tenggara Timur.

Baca Juga :  Desa DIGITAL Menuju REVOLUSI Industri ‘Four Point Zero’

Di tengah dinamika pembangunan daerah yang terus mencari keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan maka Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) menjadi pilihan untuk diterus dikembangkan.

“Dari hutan ke pasar, dari rumah kecil KPH Mart ke rumah besar NTT Mart,” demikian Gubernur Melky saat menghadiri Pameran Produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di kawasan Car Free Day di Jalan El Tari, Kupang, Sabtu (28/3/2026).

Pernyataannya ini menggambarkan rantai nilai yang ingin dibangun, yang dimulai dari produksi di tingkat tapak – one forest one product – hingga pemasaran dalam skala lebih luas.

Baca Juga :  Pengelolaan DAS BERKELANJUTAN Menuju KOTA KUPANG Tangguh dan SMART CITY

Dalam pameran HHBK tersebut, Gubernur Melky didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi NTT Sulastri H.I. Rasyid, serta Kepala BPDAS Benain Noelmina Kludolfus Tuames.

Giat Pameran yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat tersebut, Gubernur Melky menegaskan bahwa transformasi sektor kehutanan tidak cukup berhenti pada konservasi, melainkan harus menjelma menjadi kekuatan ekonomi berbasis rakyat.

Baca Juga :  DAK dan APBD Kota Kupang Siap BANGUN 249 Unit RUMAH Swadaya

Pameran HHBK yang digelar menampilkan beragam produk unggulan berbasis sumber daya hutan non-kayu, mulai dari minyak atsiri, madu, hingga makanan olahan. Produk-produk ini mencerminkan potensi besar di seanteto hutan NTT yang selama ini belum sepenuhnya dioptimalkan.

Dalam perspektif pembangunan ekonomi daerah, HHBK memiliki keunggulan strategis: tidak merusak hutan, berbasis kearifan lokal, serta memiliki peluang pasar yang terus berkembang. Namun, tantangan utamanya terletak pada aspek hilirisasi, kualitas produk, dan akses pasar.