Iya kita harus hadapi kelemahan-kelemahan ini menjadi peluang. Kita tidak saja berupaya memperjuangkan sarana prasarana (Sarpras) itu. Akan tetapi harus ada kemampuan baru dari dalam diri kita dalam menghadapi tuntutan kebutuhan jaman ini. Jadi tantangan yang ada mestinya menjadi peluang untuk kita berupaya. Misalnya tidak ada lisitrik. Itu harus bisa di-tacle. Kalau tidak kita tidak bisa maju.
Jadi, tegasnya berulang, kita harus hadapi itu semua sebagai bagian dari tuntutan kemajuan. Lisrik tidak ada atau Sarpras lain tidak ada, lalu kita mau bikin apa. Apakah harus diam? Iya itu kita tidak akan maju-maju. Lalu kita bilang pemerintah NTT tidak mampu untuk meng-handle. Lho siapa bilang tidak mampu. Mana you punya perencanaan, mana you punya kemampuan. Cuma memang itu membutuhkan sikap mental yang baru. Dan kemampuan-kemampuan kompetensi yang mungkin sebelumnya tidak ada.
Dengan kata lain, tambah dia, kita jangan dibatasi oleh kita tidak punya Sarpras. Ini harus ada untuk melayani kebutuhan. Jadi kalau sekarang lisrik tidak ada lalu tidak bisa belajar atau tidak bisa laksanakan ujian siswa? Iya, kemampuan belajar ada maka listrik juga harus diadakan. Karena ini adalah tanggung jawab. Kita harus mampu meng-handle kekurangan-kekurangan ini.
Sarpras kita tidak punya iya jangan ujian berbasis komputer. Tapi itu apakah selesai sampai disitu saja? Kita harus punya upaya-upaya agar kita juga mampu bersaing. Sudah tentu kita tidak ingin orang lain makan roti kita makan jagung. Kita harus makan roti. Bahwa dana APBD itu harus menopang kesejahteraan rakyat. Jika kurang dana APBD apa lagi upaya kita. Karena pendidikan adalah tanggung jawab bersama.
“Menjadi harapan saya kita harus berubah. Dan kita tidak boleh kurang darimana pun. NTT harus bisa berubah. NTT sudah bisa tapi kesempatan ini yang harus dibangun. Banyak koq orang NTT yang hebat-hebat. Bukan saja di Indonesia tapi juga banyak diluar negeri. Nah ini kesempatan kita bisa bergandengan tangan menjawabi kebutuhan di era ini. Juga kekurangan yang ada di kabupaten/kota kita harus bangkit bersama membangun menggapai kesejahteraan bersama. Mari kita semua para intelektual, media massa, dan sebagainya harus bisa menggugah ini kebutuhan,”pinta Prof. Toisuta. +++ marthen/citra-news.com
Gambar : Prof. Willy Toisuta saat diwawacarai awak media di Gedung I.H. Doko Dinas P dan P Provinsi NTT di bilangan Jl. Soeharto Naikoten 1 Kupang Timor NTT, Senin 25 Maret 2019.













