Sebagai jawaban dari pernyataan Wagub NTT ini, beber Okto, pihaknya telah menatakelola ruang perpustakaan menjadi lebih apik agar pengunjung bisa betah menikmati bahan bacaan yang tersedia di ruang baca itu.
“Di perpustakaan ini tersedia buku-buku ensiklopedi terbitan tahun 1964. Termasuk buku-buku tentang sejarah pendidikan di NTT. Juga ada buku-buku sejak dinas ini masih jadi Kantor Wilayah (Kanwil) pendidikan. Tapi begitulah kondisinya saat ini orang lebih suka baca informasi dari internet,”tandasnya.
Sembari menambahkan, dengan kondisi ruangan yang gelap seperti ini tidak ada pengunjung yang datang baca bahan pustaka disini. Jangankan orang dari luar, para pegawai di dinas ini saja tidak pernah. Nanti kalau mereka butuh baru datang pinjam saja disini.
Menjawab alasan tidak ada dukungan fasilitas penerangan listrik yang memadai, Okto mengaku tidak mengetahui persis alasannya. Ruang perpustakaan itu beru tertata baik semenjak kepala dinas dijabat Sinun Petrus Manuk. Setelah itu kondisi listriknya sudah tidak terurus lagi.
“Saya diberi mandate mengelola perpustakaan ini sejak kepala dinas dijabat bapak Petrus Manuk. Saat itu ada AC, listrik, dan beberapa fasilitas lain lengkap disini. Setelah itu sudah jadi amburadul sampai sekarang,”ucap Okto












