Didampingi Kadis Kesehatan Kabupaten TTU, Robertus Ceunfin (kanan), Bupati VALENS Kebo (kiri) beri keterangan pers, di Rujab Gubernur NTT, Kupang, Rabu (4/6). Foc. CNC/hiro tuames.
Citra News.Com, KUPANG – BUPATI Timor Tengah Utara (TTU), Falentinus Kebo, mengatakan penanganan stunting di daerah menghadapi berbagai tantangan. Selain adanya efisiensi anggaran juga keterbatasan tenaga penggerak seperti penyuluh kesehatan di lapangan.
“Jadi bukan hanya soal efisiensi anggaran atau kurangnya tenaga penggerak kesehatan. Tetapi tantangan terbesar dalam penanganan stunting di daerah adalah berbenturan dengan adat dan budaya setempat,” demikian Bupati Valens di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT, Kupang, Rabu (4/6).
Di Kabupaten TTU contohnya, jelas dia, anak yang baru lahir dikenakan pemali atau pantangan. Benturan adat dan budaya lokal ini sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak, jika dipandang dari perspektif kesehatan.
Ada fakta krusial bahwa di sejumlah wilayah TTU, anak-anak yang baru lahir kerap langsung dikenakan pemali atau pantangan adat. Akibatnya, mereka tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan bergizi seperti telur, ikan, ayam, dan kacang hijau.













