Oleh: *) Anselmus DW Atasoge
HARI INI 15 JANUARI, Gereja Katolik mengenang dan merayakan Pesta Santo Arnoldus Janssen. Beliau adalah Pendiri Serikat Sabda Allah (SVD), yang menawarkan paradigma yang dikenal sebagai ‘Hospitalitas Spiritual’. Sebuah ikhtiar yang melampaui Sekat Dogmatis.
Bagi saya, kenangan dan perayaan ini membawa diskursus penting mengenai bagaimana visi seorang tokoh abad ke-19 tetap relevan dalam bangunan dialog antar iman kontemporer.
Konsep yang menjadi warisan intelektual pendiri Serikat Sabda Allah (SVD) ini menjadi krusial di tengah dinamika masyarakat plural yang seringkali terjebak dalam eksklusivisme.
Melalui pendekatan yang sistematis, Santo Arnoldus menunjukkan bahwa ‘perjumpaan antar keyakinan’ harus berlandaskan pada ‘keterbukaan hati yang teruji secara intelektual maupun spiritual’.
Dasar pemikirannya berpijak pada posisi epistemologis yang mengakui keberadaan ‘Semina Verbi atau Benih-Benih Sabda’ di dalam setiap kebudayaan dan tradisi.
Secara teologis, prinsip ini menegaskan bahwa kebenaran serta kebaikan bersifat universal dan dapat ditemukan dalam berbagai manifestasi kepercayaan manusia.
Pandangan tersebut mengubah pola hubungan antarumat beragama dari ‘model konfrontatif’ menuju ‘model apresiatif’.
Eksistensi kebenaran pada pihak lain diakui sebagai ‘jejak kehadiran Ilahi’ yang telah ada mendahului interaksi manusiawi. Di titik ini, dialog menjadi sebuah proses penyingkapan bersama terhadap hakikat kebenaran yang multidimensional.











