Citra News.Com, KUPANG – DI TENGAH berbagai tantangan pembangunan yang masih membayangi Nusa Tenggara Timur, pendekatan ilmiah mulai mendapat tempat lebih kuat dalam proses perumusan kebijakan daerah.
Langkah ini terlihat ketika Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, mengundang para peneliti pemerintah provinsi untuk berdiskusi langsung mengenai arah pembangunan daerah hingga tahun 2030.
Audiensi yang berlangsung di Rumah Jabatan Gubernur NTT, Selasa (10/3/2026) malam, bukan sekadar pertemuan rutin birokrasi. Pertemuan itu menandai upaya awal pemerintah provinsi memperkuat kebijakan pembangunan dengan dukungan riset dan analisis ilmiah yang lebih sistematis.
Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Melky menerima tim peneliti dari Bidang Riset dan Inovasi Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah Provinsi NTT (Bapperida).
Sebanyak 32 peneliti dilibatkan untuk menyusun kajian ilmiah yang diharapkan menjadi dasar evaluasi sekaligus arah kebijakan pembangunan daerah dalam lima tahun ke depan.
Salah satu persoalan yang kerap muncul dalam pembangunan daerah adalah sulitnya mengukur dampak kebijakan secara objektif. Banyak program pemerintah berjalan tanpa indikator yang jelas mengenai keberhasilan atau kegagalannya.
Gubernur Melky menilai kondisi ini perlu diubah. Menurutnya, visi dan program pembangunan harus diterjemahkan dalam parameter yang bisa diukur secara berkala. “Program dan visi misi itu umum, tetapi kita harus punya ukuran yang jelas. Target lima tahun sampai 2030 harus bisa diterjemahkan ke dalam parameter yang bisa diukur setiap tahun,” ujar Melky.
Karena itu, tambah dia, tim peneliti diminta membantu pemerintah menyusun peta jalan pembangunan yang tidak hanya berbasis pada perencanaan administratif, tetapi juga didukung analisis ilmiah mengenai dampak kebijakan.
Pendekatan ini sekaligus menjadi upaya memperkuat budaya pengambilan keputusan berbasis data (evidence-based policy) di lingkungan pemerintah daerah.












