Dinas PU Kerja KURANG Sedikit Saja DICERCA

Wagub Josef : “…Jangan coba-coba bawa namanya Viktor dan Jos datang minta proyek di PU. Jangan ada itu! Kalau ada yang bawa-bawa nama Viktor atau Jos tolong telpon.  Biar pak Viktor patahin kaki dia. Iya, kalau saya belum sampai disitu. Saya palingan bisa buang air ludah (liur) di mukanya saja. Itu lebih sadis…”

Kupang,citra-news.com – WAKIL GUBERNUR Nusa Tenggara Timur (Wagub NTT), Drs. JOSEF Adrianus Nae Soi, MM mengatakan, dirinya tidak bisa lepas dari infrastruktur.”Saya tidak bisa lepas dari yang namanya infrastruktur. Karena saya lahir, besar, dan darah daging saya dari infrastruktur. Karena itu infrastruktur harus dikerjakan. Tidak bisa tidak,”tegas Wagub Josef dalam sambutannya pada HUT Hari Bakti PU ke 73 di Gedung Dinas PUPR Provinsi NTT di bilangan Jl. Basuki Rachmat Oepura Kota Kupang, Senin 3 Desember 2018.

Menurutnya ada beberapa alasan yang membuat dirinya tidak bisa lepas dari yang namanya infrastruktur. Diantaranya, jelas Wagub Josef, bahwa infrastruktur adalah bagian dari pembentukan budaya dari masyarakat. Itu artinya peradaban dari suatu masyarakat ditentukan oleh budaya. Budaya menentukan karakter dari suatu masyarakat.

Oleh sebab itu NTT kalau mau dikatakan memiliki peradaban harus membangun infrastruktur. Infrastruktur salah satu pembentuk karakter dari nilai manusia adalah budaya. Dan pertemuan antarmanusia itu ditentukan oleh jarak antara satu tempat dengan tempat lain yang dihubungkan oleh infrastruktur jalan. Demikian halnya pemenuhan kebutuhan akan listrik dan air bersih yang juga bagian dari infrastruktur dimaksud.

Terkait pembangunan infrastruktur, beber dia, pada saat kami (Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef A. Nae Soi) dilantik Presiden Jokowi jadi Gubernur dan Wakil Gubernur (Wagub) NTT di Jakarta pada tanggal 5 September 2018, kami dipanggil khusus bersama dengan Gubernur dan Wagub Papua. Pak Jokowi pesan khusus kepada NTT dengan mengatakan, saudara Josef ini di Komisi 5 DPR RI dikenal sebagai mbah-nya infrastruktur.

Untuk itu maka kembali ke NTT urus itu infrastruktur. Kalau infrastruktur tidak baik itu yang malu pertama adalah saudara Josef. Infrastruktur di NTT harus lebih maju dari infrastruktur provinsi-provinsi lainnya di Indonesia. Itu artinya infrastruktur harus dikerjakan tidak bisa tidak.

Lebi jauh dikatakan, infrastruktur juga merupakan manivestasi dari iman. Dan iman adalah suatu imajinasi manusia. Yang adalah trasenden dari Tuhan yang tidak kelihatan yang dimanivestasikan antar manusia.

“Baru saja bapak pendeta dalam sambutannya sudah secara gamblang menyatakan infrastruktur juga salah satu pembentukan budaya dari masyarakat. Bapak Pendeta mengumpamakan, kita pakai baju bukan untuk diri kita tapi untuk orang lain. Begitu juga kita bangun infrastruktur bukan untuk kita sendiri tapi juga untuk orang lain. Supaya apa? Supaya ada hubungan antara kita dan hubungan antara kita dengan Yang Maha Pencipta . Iya kalau kita mau pergi ke gereja kita butuh infratsruktur. Kita mau bantu orang susah juga butuh infrastruktur,”kata Wagub Josef.

Men-JALA Manusia NTT

Secara spiritual dalam injil (bagi orang Kristen) menyebutkan, jadilah penjala manusia. Menurut Wagub Josef, konotasi ‘Jala’ itu bukan saja digunakan untuk menjala ikan tetapi juga untuk menjala manusia.

Berdasarkan ucapan Yesus dalam injil itu, ungkap Josef, maka kami saya dan pak Viktor kembali ke kampung halaman kami di NTT untuk ‘Men-JALA Manusia NTT’. JALA itu adalah Jalan, Listrik, Air.  Dan kami harus bisa Membangun Jalan, Listrik, Air (Men-JALA) untuk pemenuhan kebutuhan warga masyarakat Nusa Tenggara Timur. Untuk itu kami mentargetkan sedikitnya 3 tahun dan paling lama 5 tahun jalan semua provinsi di NTT sudah klar (selesai) dibangun.

“Target ini banyak yang mencibiri bahwa tidak mungkin masalah infrastruktur dalam kurun waktu tiga tahun selesai. Saya mau katakan, pak Andre tahun 2019 dana APBD Provinsi untuk membangun infrastruktur besarnya tiga kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya. Angka untuk membangun jalan sendiri cukup siginifikan (saya belum boleh sebut angka riilnya). Kalau kekurangan dana kita sudah menjalin mitra dengan PT SMI (Sarana Multi Infrastruktur) untuk membantunya,”katanya.

Menurut Wagub Josef keterbatasan anggaran untuk membangun jalan ada banyak cara yang bisa kita tempuh. Saya sudah bicarakan dengan Menteri PU bahwa tidak adil membangun jalan aspal/hotmix tapi tidak dinikmati oleh warga masyarakat di wilayah pedalaman (pegunungan). Itu tidak adil.  Karena dalam UU Nomor 22 tahun 2009 tentang Angkutan Jalan, disitu ada yang namanya Dana Preservasi Jalan. Hal ini semua orang belum tahu dan belum laksanakan. Bahwa yang berlalu lintas di jalan itu adalah orang-orang yang punya kendaraan. Mereka-merekalah yang harus membiayai perbaikan jalan manakala rusak melalui dana preservasi tadi.

“Di kepemimpinan Viktor dan Jos tidak ada lagi membeda-bedakan suku, ras, golongan. You (anda/kamu) dari sana you dari sini, you agama ini you agama itu Tuhan Yesus bisa marah. Jangan coba-coba bawa namanya Viktor dan Jos datang minta proyek di PU. Tidak ada! Jangan ada itu dan jangan coba-coba bawa-bawa nama Viktor atau Jos tolong telpon.  Kalau bawa-bawa nama pak Viktor tolong telpon. Biar pak Viktor patahin kaki dia. Kalau saya belum sampai disitu. Saya paling bisa buang air ludah (liur) di mukanya saja. Itu lebih sadis,”tegas Wagub Josef.

Dinas PU dalam melaksanakan pekerjaan infrastruktur, sedikit saja kurang itu dicerca habis-habisan. Bahkan jadi viral kemana-mana. Jalan rusak atau aspal berlubang sedikit saja Dinas PU dikritisi dan dihujat.

Beberapa waktu lalu, Wagub Josef mencontohkan, jadi viral kemana-kemana bahwa jembatan Liliba di Kota Kupang goyang mau roboh. Kabar Itu sampai ke Kementerian PU. Orang di kementerian telpon saya (Wagub Josef). Juga dari Wakil Presiden bapak Jusuf Kala. Beliau tanya apa benar. Saya bilang sonde (Tidak). Itu hal-hal kecil saja ada kerusakan infrastruktur, Dinas PU selalu jadi sorotan masyarakat.

Hal senada juga diakui Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Nusa Tenggara Timur (Dinas PUPR Provinsi NTT), Ir. Andre W. Koreh, MT.

“Kami kalau kerja kurang sedikit saja maka itu jadi viral kemana-mana. Contoh soal jembatan Liliba goyang jadi viral di media social (Medsos). Tapi segala kritikan dan sorotan yang membuat kami harus bekerja lebih keras lagi, bertindak lebih tepat, dan bergerak cepat,”ungkap Andre.

Dalam bekerja keras, bertindak tepat, dan bergerak cepat, tambah Andre, kami membutuhkan dukungan dari semua pihak. Apa yang menjadi harapan bapak Gubernur dan Wakil Gubernur NTT agar pembangunan jalan provinsi harus bisa dibangun dalam tempo 3-5 tahun, kami siap laksanakan. Karena ini adalah tuntutan masyarakat dan menjadi tanggung jawab kami di PU.

Sembari menambahkan, bahwa anggaran PBD Provinsi tahun 2019 naik 3 kali lipat sudah pasti butuh tanggung jawab kami yang lebih besar lagi. +++ cnc1

Gambar : Wagub JOSEF A. Nae Soi didampingi Andre W. Koreh, foto bersama di Taman Sapta Taruna di halaman depan Kantor Dinas PUPR Provinsi NTT, Kupang, Senin 3 Desember 2018.

Foto : Doc. CNC/marthen radja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *