Disinyalir Upaya Persuasif Polisi Membalikkan Kasus KRIMINAL

FRANS G. B MBURA,  korban penganiayan oleh VERSIAS Osias Dethan,  pada Rabu dinihari 2Juni 2021. Doc. marthen radja/citra-news.com

Frans : “…sebagai manusia dalam komunitas masyarakat saya bisa memaafkan Versias Osias Dethan. Akan tetapi perbuatan kejahatannya saya tidak akan bisa memaafkan…”

Citra-News. Com, OELAMASI – KEPOLISIAN Sektor (Polsek) FATULEU Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah berupaya menyelesaikan perkara tindak pidana atas peristiwa penganiayaan terhadap Frans G. B Mbura, Kepala Dusun IV RT 13/RW 07 Desa Kuimasi Kecamatam Fatuleu Kabupaten Kupang – NTT.

Namun upaya perdamaian secara kekeluargaan oleh aparat Polsek Fatuleu ini besar kemungkinan tidak diterima pihak Frans Mbura selaku korban penganiayaan tersebut.

“Saya heran koq polisi di Polsek Fatuleu dalam kasus penganiayaan terhadap diri saya ini bukannya menangkap dan menahan pelaku. Tapi malahan polisi membiarkan pelaku berkeliaran bebas. Penanganan hukum model ini kan sama dengan polisi menyuruh pelaku untuk terus berbuat kejahatan kepada istri dan anak serta keluarga saya yang lainnya. Karena pelaku merasa diri diberi peluang untuk bertindak kejahatan-kejahatan serupa, ” ungkap Frans.

Frans ditemui tim media, Jumat 11 Juni 2021 di tempat kerjanya seputaran Lili, di bilangan Jalan Timor Raya menjelaskan kronologis kejadiannya.
Adapun point penting yang beberkan Frans, bahwa hubungan soaial kemasyarakatan antara dirinya dengan V. O. Dethan dalam keseharian di Desa Kuimasi baik-baik saja.

“Hubungan kami berdua di masyarakat desa Kuimasi tidak ada persoalan apa-apa sebelum peristiwa penganiayaan ini. Bagaimana tidak! Karena selain kami dalam satu rumpun keluarga, si V. O Dethan atau biasa dipanggil Ipang ini adalah pejabat Desa Kuimasi. Bagaimana mungkin kami sesama aparatur desa harus saling cekcok? Saling cekcok atau disharmoni hubungan antara aparat desa, itu sama artinya pemerintah mencontohkan hal yang buruk di masyarakat,”tegas Frans.

Hamonisasi hubungan antar warga Kuimasi ini, lanjut Frans dibuktikan dengan saling gotong royong mensukseskan rencana kunjungan kerja rombongan Bupati Kupang ke Desa Kuimasi pada Rabu 2 Juni 2021.

Dikatakannya, untuk sebuah kunjungan kerja kepala daerah sudah pasti dari jaih-jauh hari warga desa harus mempersiapkan secara matang. Dan ini optimalisasi peran aparat desa mulai dari kepala desa, kepala dusun hingga RT/RW yang menjadi area titik kumpul.

Oleh karena itu pada Selasa 1 Juni 2021 hadir beberapa tokoh masyarakat, pemuda, tokoh aagama dan berapapa warga lainnya di titik kumpul rumah saya (Frans G.B.Mbura, red). Karena acaranya tinggal keesokan harinya maka beberapa orang anak muda masih duduk beraktivias hingga larut malam.

Tapi saya tidak duduk bergabung hingga larut dan saya harus tidur. Pagi hari sekira jam 4 hari saya terbangun dan keluar karean berasa buang hajatan di sekitar mamar belakang rumah.

Setelahnya baru mau balik masuk rumah ada sesosok bayangan menghampiri saya dan secepat kilat sebilah parang mengenai wajah saya.

“Beruntung Tuhan masih sayang saya. Karena disaat bersamaan saya sempat mengelak tebasan parang pelaku. Jika saya tidak cepat maka entah leher putus atau kepala saya terbelah bagi dua,”tutur Frans dengan linangan air mata.

Saya yakin adalah jalan Tuhan, lanjut Frans, meski bersimpah darah dan perih di mata saya melihat tegas sosok yang menebas saya dengan parang adalah Versias Osias Dethan, kami sama-sama menjabat aparatur Desa Kuimasi.

Mungkin terdengar keributan sudah jelang hari sudah terang itu maka isteri keluar menuju TKP (tempat kejadian perkara) dan berteriak minta tolong warga sekitar.

“Saya dilarikan ke IGD Rumah Sakit Naibonat oleh isteri dan ayah saya. Pagi itu kabar pembunuhan ini tersiar dari mulut ke mulut dan kemana-mana hingga ke telinga Pemerintah Kabupaten. Yang pada akhirnya Kunjungan Kerja rombongan Bupati dengan agenda pertemuan warga desa dengan Bupati bersama BPN dan Dinas Perumahan terkait HGU PT Royal Timor Postrindo pada Rabu 2 Juni 2021 DIBATALKAN.

Nah sekitar pukul 09-10 pagi datang ke rumh sakit beberapa anggota Polisi, katanya ambil visum et repertum. Setelahnya polisi olah kasus ke TKP dan kepada bapak saya Dominggus Mbura polisi mengatakan atas kasus ini Polsek Fatuleu akan bertindak sesuai aturan hukum yang berlaku.

Upaya Mediasi Polisi

Frans mengaku kesal karena terkesan kasus ini ditutup-tutupi. Koq sudah memasuki minggu kedua Juni ini, sang pelaku V. O Dethan tidak jua ditangkap san ditahan? Ada apa dibalik ini.

Dengan kebuntuan kasus saya di Polsek Fatuleu ini, kata Frans, saya menduga ada sesuatu yang tidak beres. Kemudian belakangan diinformasikan bahwa Polisi berupaya damai secara kekeluargaan.

“Nah inikan aneh. Sudah tahu jelas identitas pelakunya adalah Versias Osias Dethan dan polisi bukannya tangkap dan ditahan baru urusan mediasi. Saya takut akan menimbulkan korban jiwa yang lebih banyak lagi. Si V. O Dethan mau kasih mati saya tidkk bisa tapi niat jahatnya bisa menyasar di anak istei dan keluarga saya. Karena memang tidak ada penanganan apa-apa dari pihak kepolisian akan kasus yang disebutkan polisi sebagai peristiwa penganiayaan,” tegasnya berulang.

Sembari memperlihatkan surat panggilan polisi, Frans mengatakan, surat panggilan ini bukannya membedah kasus tapi upaya menghilangkan fakta kriminal dan saya dan keluarga harus bertindak persuasif.

“Bila model penanganan kasus kriminal di kepolisian, iya saya dan keluarga bisa mati konyol. Dan ini bukan edukasi hukum yang benar bagi masyarakat. Orang akan bertindak seenak perutnya berbuat kejahatan karena tokh pada akhirnya damai dan sekedar bayar secara adat. Bahwa ah bikin terus kasus kejahatan asal pelihara sapi banyak-banyak, untuk bayar denda adat,” beber Frans.

Perihal upaya damai oleh Polsek Fatuleu, Frans menyatakan pihaknya terima upaya itu. “Akan tetapi dengan catatan damai atau apapun embel-embel yang titik akhirnya habis perkara itu saya (Frans G. B.Mbura, red) Tidak Mau.
“Damai dan habis perkara atas persitiwa penganiayaan yang dilakukan Versias Osis Dethan terhadap diri saya Frans G. B Mbura, saya tidak mau. Sebagai manusia kami berdua boleh damai. Akan tetapi tindakan kejahatan dari Versias Osias Detan harus diproses secara hukum. Ini sebagi efek jera. Karena dampak dari perbuatan kejahatannya itu akan meluas bila aparat penegak hukum tetap memepuknya dengan cara-cara damai. Ini pendididikan hukum yang salah bahi masyarakat, “tegas Frans.

Ini surat panggilan polisi bahwa hari/ tanggal Minggu 13 Juni 2021, kata Frans, dengan agenda Klarifikasi Keterangan (sudah tentu keterangan dari saya selaku korban).

“Apakah saat itu dihadirkan juga pelaku Versias O. Dethan? Iya mudah-mudahan saja supaya bisa dikonfrontir secara terbuka di hadapan penyidik yang dalam surat ini atas nama Bripka SAKARIAS NANO,” pungkasnya. +++ citra-news.com/tim infestigasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *