Anggota PMKRI Sebut JUBIR SATGAS Human Trafficking BOHONGI Publik

“…Jangan mau naikkan pamor dan popularitas diri karena jadi calon anggota legislative (Caleg) lalu human trafficking jadi jualan politik. Ini yang dilakukan oknum Caleg atas nama R. Riesta Ratna Megasari, yang juga Juru Bicara Satuan Tugas (Jubir Satgas) Anti Human Trafficking Partai Golkar NTT,”kritik Emanuel Bolly. Lalu apa fakta miris yang dikritisi aktivis PMKRI Cabang Kupang ini? Berikut cuplikannya.

Kupang, citra-news.com – SAYA koq jadi kaget setelah mendengar puja-puji dari bapak Wakil Gubernur NTT, JOSEF A. Nae Soi kepada ibu R. Riesta Ratna Megasari. Seolah-olah terjadinya penangkapan 11 orang calon TKI asal NTT oleh kepolisian itu atas informasi dari ibu Megasari yang adalah Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Anti Human Trafficking Partai Golkar NTT.

Hal itu diungkapkan Emanuel Bolly, anggota PMKRI St Fransiskus Cabang Kupang, dalam sesi tanya jawab pada acara Dialog Publik dan Pelatihan Pendekatan Berbasis HAM untuk Implementasi Konvensi ASEAN Melawan Tindak Pidana Perdagangan Orang Khususnya Perempuan dan Anak-anak, yang diselenggarakan oleh IOM dan AICHR, di Gedung DPD RI, Kupang, Minggu 14 Oktober 2018.

Menurut  EMAN, demikian Emanuel Bolly biasa disapa, penanganan terkait masalah Human Trafficking (perdagangan orang) erat hubungannya dengan masalah tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Dan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) salah satu provinsi dengan angka buruh migran terbesar jumlahnya di Indonesia.

“Karena menjadi salah satu provinsi penyuplai tenaga kerja di luar negeri lalu orang mengkait-kaitkan dengan soal kemiskinan dan minimnya lapangan pekerjaan. Ini sesungguhnya pemerintah telah gagal mengidentifikasi rakyat NTT. Dan juga lemah dalam penataan system,”tandasnya.

Dari kelemahan penataan system ini, menurut Eman, lalu menjadi peluang oknum-oknum atau bagi pihak-pihak tertentu untuk bargaining. Apalagi pas dengan momentum politik seperti saat-saat ini dimanfaatkan oleh oknum-oknum calon anggota legislative (Caleg) jadi komoditas politik. Janganlah menjadikan isu human trafficking ini jadi jualan politik untuk menaikkan  pamor dan popularitas diri di pen-caleg-kan saat ini, pinta Eman.

“Iya, kami memandang saat ini masalah human trafficking jadi jualan politik seperti pengalaman yang baru saja terjadi. Dimana pada Jumat 12 Oktober 2018 terjadi penangkapan 11 calon TKI (CTKI) asal NTT yang mau diberangkatkan ke Malaysia. Lalu ada oknum Caleg berkomentar di media massa seolah-olah karena upaya dia sehingga menggagalkan keberangkatan 11 CTKI itu. Dan oknum Caleg itu adalah ibu Megasari, Jubir Satgas Anti Human Trafficking (AHT) Partai Golkar yang tadi pak Wagub Josef Nae Soi dalam sambutannya mengangkat-angkat namanya. Bahwa karena upaya Jubir Satgas Anti Human Trafficking (AHT) Partai Golkar itu sehingga bisa menggagalkan 11 CTKI yang ada. Padahal itu upaya PMKRI Cabang Kupang,”jelas Eman.

Saya (Emanuel Bolly) ini saksi hidup, tegas dia. Dan saya ini orang pertama yang disampaikan oleh saudara kandung dari salah satu calon TKI yang mau diberangkatkan ke Malaysia pada Jumat 12 Oktober 2018. Orang itu meminta saya menghubungi pihak kepolisian supaya segera menahan 11 orang calon TKI itu. Waktu itu saya diberitahu sekitar jam 9 pagi dan saya langsung menghubungi pihak Sat Intel Polres Kupang Kota (Polresta). Dan dari pihak Polresta melanjutkan ke pihak KP3 Laut Tenau Kupang.

“Jadi BUKAN upaya dari ibu Megasari yang adalah Jubir Satgas Anti Human Trafficking (AHT) dari Partai Golkar NTT. Itu pembohongan publik. Makanya saya koq kaget tadi puja-puji dari bapak Wagub Josef Nae Soi bahwa penangkapan 11 Calon TKI (CTKI) itu seolah-olah upaya dari Jubir Satgas AHT Partai Golkar itu (R. Riesta Ratna Megasari) ke pihak KP3 Laut Tenau Kupang,”ungkapnya kesal.

Kepada citra-news.com EMAN menjelaskan konologisnya. Batalnya keberangkatan 11 CTKI NTT ke Malaysia ini berawal dari laporan saudari dari Arnoldus yansen Seran, salah satu CTKI. Bahwa ada 6 orang ditambah 2 orang prekruit yang adalah Pasutri (pasangan suami isteri). Pasutri ini orang Kobalima Kabupaten Malaka. Pasutri ini juga TKI yang selama ini kerja di Malaysia tapi illegal. Mereka datang  di NTT baru satu bulan yang lalu. Kemudian mereka merekruit 6 orang 4 laki-laki dan 2 perempuan. Satu laki-laki ini namanya Arnoldus Yansen Seran. Kakak perempuan dari Yansen Seran ini tidak mau adiknya Yansen Seran berangkat ke Malaysia karena illegal. Dia bilang kaka  (Emanuel Bolly) tolong dulu lapor ke polisi. Karena saya ini yang turut hantar keenam CTKI ke Tenau Kupang. Kira-kira kaka mereka bisa bantu lapor ke polisi kah? Akhirnya siang harinya kami lapor di Kasat Intel Polresta, pak Basir.

Tetapi belum ada respon dari pak Basir mungkin karena beliau sibuk? Sehingga sekitar pukul 18.30 Wita saya langsung informasikan ke pak Ketut di Polda NTT. Saya bilang bapak sekarang ini ada 8 orang CTKI sedang ada di Pelabuhan Tenau Kupang mau naik kapal Umsini ke Malaysia. Mereka ini illegal bapak Wadir, ini saya kirim foto mereka. Sementara dari Tenau infomasikan kalau kapal Umsini baru sandar turun jangkar. Bersamaan waktunya dari Intel Buser Polresta bergerak cepat dan berhasil menangkap 3 orang termasuk Arnoldus Yansen Seran.

Saya lalu telpon ini kaka dari Arnoldus Yansen Seran, dia katakan kami semua ada di Polresta. Saya langsung turun ke Polresta dan benar semua CTKI ada sana. Singkat cerita saudari dari Arnoldus Seran ini punya kenalan teman kami di PMKRI makanya dia datang lapor ke kami. Bukan lapor ke Jubir Satgas AHT Partai Golkar NTT. Jadi puja-puji ini tidak benar. Koq saat di Polresta tidak ada satu orang pun dari Satgas Golkar termasuk itu Jubir, ibu Megasari tidak ada. Juga tidak ada media massa. Hanya saya sendiri dengan beberapa anggota Intel Polresta. Saya yang foto dan shooting para CTKI dan saya sebarkan, tegas Eman.

Menjawab hingga viral di media massa salah satunya media online, tambah Eman, kemungkinan besar hasil foto dan shooting yang dia  share (edarkan) ke relasi. Mungkin ada relasi yang share lagi dan dimanfaatkan orang-orang di Satgas AHT Partai Golkar NTT. Supaya jangan kehilangan momentum dan mau disampaikan kepada rakyat Kota Kupang bahwa Satgas AHT Partai Golkar NTT sangat peduli dengan human trafficking. Padahal ujung-ujungnya jadi jualan politik di pen-Caleg-kan mereka. Ini pembohongan public namanya. +++ tim cnc

Gambar: Calon TKI (CTKI) ilegal asal Kabupaten Malaka Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berniat ke Malaysia DIGAGALKAN Aparat Kepolisian Resor Kota Kupang (Polresta) pada Jumat, 12 Oktober 2018. Para CTKI illegal yang berjumlah 11 orang ini ditahan ketika hendak menumpang Kapal Umsini di Pelabuhan Tenau Kupang.

Foto : doc. CNC/Emanuel Bolly

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *