PENGACARA Yulia Afra Sebut Kejagung NGAWUR

Rusdinur, SH, MH Kuasa Hukum Yulia Afra, ketika diwawancarai awak media, di Kupang, Kamis 29 Agustus 2019. Doc. Foto CNC/marthen radja.

Jelang berakhirnya perpanjangan masa penahanan terhadap 6 (enam) TSK, masing-masing pengacara TSK melakukan upaya perkara Pra Peradilan. Bahkan pengacara Yulia Afra, RUSDINUR menilai pihak Kejaksaan Agung NGAWUR menahan kliennya.

Citra-News.Com, KUPANG – KUASA HUKUM/Pengacara Yulia Afra, RUSDINUR, SH,MH dan Partners mengatakan, Ngawur pihak Kejaksaan Agung (Kejagung) Republik Indonesia c.q Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (Kejati NTT). Pasalnya, jaksa tidak memahami anatomi jawaban dari dalil-dalilnya selaku Pemohon. Dalam hal ini kliennya, Yulia Afra.

“Pada prinsipnya saya mau katakan bahwa sepertinya jaksa-jaksa selaku Termohon sepertinya Ngawur. Para jaksa ini tidak paham terhadap anatomi daripada sebuah jawaban yang seharusnya mereka menggalinya lebih mendalam,”ungkap RUSDINUR, SH, MH kepada awak media di Kanbtor Pengadilan Negeri Kupang, Kamis, 29 Agustus 2019.

Diketahui para jaksa Kejagung RI c.q Kejati NTT yang selaku Termohon ini masing-masing Dr. AKMAL Kodrat, SH, M.Hum; ROBERT Jimmmy Lambila, SH, MH; ARIF Suhartono, SH; dan BENFRID C.M Foeh, SH.

Gedung NTT FAIR di bilangan Bimoku Kota Kupang ini mangkrak sejak pertengahan Oktober 2018. Doc. Foto CNC/marthen radja.

Para jaksa dari Kejati NTT ini, tegas Rusdinur, tidak memahami dalil-dalil jawaban Pemohon. Para jaksa ini tidak menggali lebih dalam lagi terhadap apa yang menjadi jawaban Pemohon.  Saya (Rusdinur, red) juga tidak paham kenapa para jaksa diberi kesempatan sudah hampir beberapa minggu setelah mereka menerima surat permohonan. Tetapi mereka tidak bisa untuk mengemukakan apa yang menjadi alasan menguatkan mereka dalam melakukan penyidikan. Termasuk surat perintah penangkapan, penahanan, dan surat perintah pembayaran atas pekerjaan dari pemohon.

“Ini sudah jelas bahwa anatomi dari jawaban yang Kejati NTT buat, satupun tidak memenuhi syarat. Juga tidak ada yang membantah bahwasanya gugatan kami ini tidak dapat dibenarkan,”kata Rusdinur.

Rusdinur Yakin Kliennya Yulia Afra MENANG

Terkait dengan alasan dari jawaban jaksa selaku Termohon ini, tegasnya berulang, saya melihat para jaksa ini tidak paham apa yang menjadi tujuan dari Pra Peradilan. Secara hukum/secara umum bahwasanya jaksa ini menilai bahwa perkara ini masuk ke ranah pembuktian formil.

Rusdinur, SH, MH (kiri) dan Yulia Afra (kanan). Doc. Foto CNC/marthen radja.

Namun pada prinsipnya, lanjut Rusdinur,  kami melihat disini hukumnya dari materil perkara. Karena tidak ada satupun dari jawaban jaksa ini dapat melemahkan apa yang menjadi permohonan kami. Salah satu contoh ketika jaksa tidak dapat mengemukakan alasan kami kenapa melakukan penangkapan terhadap klien kami (Yulia Afra, red) juga tidak dibantah.

“Ini berarti apa yang tidak bisa dibantah tersebut, ini yang menjadi salah satu alasan bagi kami bahwasanya kami yakin klien kami akan menang dalam perkara ini,”ucapnya.

Yang kedua, lanjut dia,  jaksa sepertinya tidak mengemukakan apa yang menjadi dasar daripada penahanan yang mereka (termohon) lakukan. Malah karena mereka tidak mempunyai alat bukti. Jelas-jelas bahwasanya alat bukti didalam perkara Tindak Pidana adalah bukan sebuah visum et repertum yang merka kemukakan. Bahwa dalam perkara pencabulan atau pemerkosaan yang mereka sampaikan.

“Menurut kami bahwa alat bukti dalam perkara tindak pidana korupsi adalah jelas-jelas adanya bukti dari BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Atau badan yang terlegitimasi melakukan perhitungan potensi kerugian negara. Jadi jelas bahwa dalil yang mereka sampaikan tidak ada atau belum ada lembaga audit yang sah,”tegasnya.

Menjawab wartawan alat bukti yang menjadi dasar penahanan 5 (lima) tersangka (TSK) adalah perhitungan teknik dari lembaga Perguruan Tinggi. Rusdinur menyatakan, semestinya alat bukti yang dipakai adalah yang dilakukan oleh lembaga independent yang disahkan oleh negara. “Menggunakan alat bukti tidak dari lembaga audit yang sah ini sehingga kami menganggap bahwa penangkapan, Penyidikan, bahkan penahanan terutama terhadap klien kami (Yulia, Afra, red) tidak sah dan meyakinkan secara hukum,”tegasnya.

DONNA F. Toh (gambar kiri) dan LINDA Liudianto (duduk di kursi roda) saat digiring petugas di Bandara El Tari Kupang (gambar kanan). Doc. Foto CNC/marthen radja/web

Seperti diberitakan sebelumnya kasus dugaan korupsi pembangunan Gedung NTT FAIR ini menyeret 6 TSK (enam tersangka). Keenam TSK itu kini ditahan Kejati NTT di Rutan (Rumah Tahanan) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Penfui Kupang.

Masing-masing YULIA Afra, mantan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Provinsi NTT. Dan juga selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) pada Proyek yang bermasalah tersebut. Berikut DONNA Febiola Toh selaku PPK (Pejabat Pembuat Komiten pada eks Dinas PRKP NTT); LINDA Liudianto alias LL (Kontraktor); HADMEN Puri alias HP, dan dua TSK lainnya dari tim konsultan. +++ marthen/citra-news.com     

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *