Gizi Pangan Memadai Ciptakan SDM Berkualitas

Bebicara soal kecukupan pangan erat kaitannya dengan terpenuhinya bahan makanan yang menjadi kebutuhan konsumsi bagi keluarga dan masyarakat. Namun perlu ada keseimbangan antara kuantitas dan kualitas dari bahan pangan dimaksud.

Kupang, citra-news.com – KETERSEDIAAN pangan yang cukup bagi kebutuhan masyarakat adalah tuntutan. Namun tidak mengabaikan nutrisi atau nilai gizi yang dibutuhkan tubuh.  Sehingga cukup pangan dan cukup gizi dapat menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

Hal itu dikatakan dr. Yovita Anike Mitak, MPH usai dilantik menjadi Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Jumat 8 Juni 2018.

Kepada wartawan Dokter Niken -demikian ia akrab disapa- mengatakan, penempatan jabatan di Dinas Ketahanan Pangan tidak jauh berbeda dengan disiplin ilmu yang dia miliki. Karena berbicara soal ketersediaan pangan erat kaitannya dengan pola konsumsi bagi masyarakat dan keluarga.

“Penempatan saya dalam jabatan ini tidak hanya bagaimana ketesediaan pangan dalam kaitannya dengan gizi keluarga dan masyarakat. Tetapi sekaligus juga saya belajar tentang pertanian dan ketahanan pangan,” tegasnya.

Menurut dia, ketersediaan pangan/bahan makanan harus ada nilai gizi yang terkandung di dalamnya. Karena akan berpengaruh pada kesehatan tubuh kita.  Bayi yang baru lahir, contohnya,  membutuhkan ASI yang berkualitas. Nah, bagaimana seorang ibu bisa menghasilkan ASI yang berkualitas dengan pola makanan dengan asupan nutrisi yang tidak seimbang? Fakta menunjukkan jika asupan nutrisi tiak seimbang maka dipastikan berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya bayi yang dilahirkan.

Fakta lain yang juga berpengaruh pada perkembangan bayi adalah pemberian ASI sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada. Misalkan ASI Eksklusif, itu wajib diberikan rutin selama 6 bulan. Setelah 6 bulan ASI bayi diberikan bahan makanan dengan pola-pola dan asupan gizi (nutrisi) yang seimbang. Demikian seterusnya sampai pada tahapan usia selanjutnya,  selalu diberikan asupan makan yang cukup dan seimbang.

Dikatakannya, ada pola pemberian bahan makanan yang sudah dilakukan secara turun-temurun.  Misalkan, memberikan air beras sebagai pengganti ASI diberikan kepada bayi pada usia tertentu. Ini pola pemberian makanan yang sudah secara turun-temurun yang ada di masyarakat. Ini tentunya bahan pangan berupa beras harus selalu ada stock.

Labih jauh dia membeberkan, ketersediaan pangan lokal yang cukup bagi keluarga dan masyarakat erat kaitannya dengan pemanfaatan lahan pekarangan yang dimiliki keluarga. “Ini mestinya dihidupkan kembali. Lahan pekarangan harus dioptimalisasi dengan tanaman holtikultura berupa kacang-kacangan, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Bahan-bahan makanan ini yang dimaksud sebagai sumber gizi yang dapat memberikan nutrisi bagi keluarga”.

Tanaman kelor adalah juga bahan yang diperlukan, tambah Niken. Akan tetapi tubuh kita tidak hanya membutuhkan sayuran dari tanaman kelor. Harus ada variasi konsumsi dengan sayuran lainnya. Dan itulah yang dimaksud dengan keseimbangan.  Jadi pangan lokal yang dimaksud adalah bahan makanan yang tersedia sesuai dengan kebutuhan. Yang sudah tentu di dalam bahan pangan lokal ini ada keseimbangan nutrisi dan nilai gizi yang dibutuhkan. Karena dalam kajian, pangan lokal tidak kalah nilai gizinya. Tidak kalah pola konsumsinya. Dan tidak kalah juga dengan olahannya jika dibandingkan dengan bahan pangan non lokal. +++ cnc1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *