Butuh Inovasi di Saat Pandemi COVID-19

Ini alat cuci tangan hasil Teknologi Terapan SMKN 5 Kupang. Doc.marthen radja/citra news.com

Kepala SMK Negeri 5 Kupang, Dra.SAFIRAH Cornelia Abineno menyatakan bangga dengan hasil kreasi guru dan siswa di SMKN 5 Kupang. Tekonologi rekayasa alat cuci tangan sanggup disabet para guru Komli Teknik Elekstro dan Komli Teknik Pengelasan. Luar biasa bukan?

Citra News.Com, KUPANG – MULAI tahun 2020 setiap sekolah di level pendidikan menengah atas harus menjadi sumber baru PAD provinsi. Untuk bisa meraih pendapatan tersebut rasanya sulit-sulit gampang. Apalagi menghadapi pendemi Corona Virus Diseases (Covid-19) yang tengah melanda masyarakat dunia saat ini.

Menjawab tantangan akan permintaan Pemerintah Provinsi  Nusa Tenggara Timur (NTT) yang seakan ‘memaksa’ ini, maka kepala sekolah harus kreatif dan inovatif. Salah satu bentuk inovasi yang dilakoni SMKN 5 Kupang adalah merakit alat cuci tangan menggunakan kaki.

“Masa pandemi Covid-19 saat ini hampir pasti besar pengaruhnya terhadap pendapatan sekolah yang bersumber dari para orang tua siswa. Memang ini tantangan tapi sekaligus peluang bagi kami di SMKN 5 Kupang. Sebagai sekolah kejuruan yang berbasis teknologi kami mencari strategi agar pos pendapatan sekolah bisa terisi,”ungkap Safirah saat ditemui awak citranews.com, di Kupang Senin, 13 Juli 2020.

Dia menjelaskan, untuk mengisi kekosongan pundi-pundi sekolah di saat pandemi Covid-19 sekaligus menambah permintaan pemerintah provinsi akan PAD maka pihaknya menempuh strategi yang mumpuni.

“Sejak lajunya permintaan pasar akan kebutuhan alat cuci tangan maka kami di SMKN 5 Kupang mulai bertindak untuk memproduksi alat serupa itu. Ini peluang karena alat cuci tangan ini sangat dibutuhkan masyarakat di saat pandemi Covid-19. Saya tanya kepada para guru Komli Teknik Pengelasan apakah mereka sanggup merakit alat cuci tangan ini. Merekan menjawab sanggup karena ini adalah materi pembelajaran. Maka melalui unit produksi sekolah ini kami membelanjakan bahan material yang dibutuhkan,”beber Safirah.

Menurut Safirah, Guru dan siswa Komli Teknik Pengelasan berpadu dengan Komli teknik Elektro lalu merakit beberapa unit alat cuci tangan yang unik dan laku terjual. Karena order (pesanan) semakin banyak orang maka kami memproduksi dalam jumlah banyak.

Dra. SAFIRAH C. Abineno dan alat cuci tangan hasil karya Unit Produksi SMKN 5 Kupang. Tampak salah satu guru tengah menelisik bahan kelengkapannya. Doc.marthen radja/citra news.com

“Saya sangat berterima kasih kepada ibu Gubernur NTT, Ny. Julie Sutrisno Laiskodat. Beliau sudah membeli 150 unit alat cuci tangan. Sebagai anggota DPR RI sudah tentu ikut merasakan bagaimana kondisi sosial ekonomi masyarakat. Dan ini sekaligus juga berkah buat kami di SMKN 5 Kupang,”ungkap Safirah.

Pembelajaran Berbasis Teaching Factory

Tidak sekadar bisnis semata, tegas Safirah. Hal yang lebih menarik dari remah-remah pandemi Covid-19 bagi SMKN 5 Kupang adalah menjadi materi pembelajaran yang berbasis teaching factory. Apalagi di saat pandemi Covid-19 tuntutan social distancing (jaga jarak) harus dipenuhi. Dimana jam tatap muka guru dan siswa tidak terjadi. Sehingga untuk mengisi hari-hari vacum ini melalui unit produksi kami rakit alat cuci tangan menggunakan kaki.

“Bila dihitung secara matematis agar mahal karena harga material untuk menghasilkan satu unit saja hingga jutaan rupiah. Ditambah lagi dengan biaya lain-lain yang tak terduga. Tapi kami jual ke khalayak dengan harga yang bisa dijangkau. Ya sekitar Rp 1,5 juta per unit. Kalau orderan di seputar Kota Kupang sudah termasuk antar di tempat tujuan,”tuturnya.

Mengingat pentingnya alat cuci tangan di pandemi Covid-19 maka pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) bekerjasama dengan TP PKK Provinsi melakukan pengadaan alat cuci tangan ini.

“Relasi bisnis kita dengan pemerintah. Karena alat cuci tangan produksi SMKN 5 Kupang ini akan masuk ke desa-desa se-Provinsi NTT. Sekaligus menjadikan Desa Model PKK.  Secara ilmu pengetahuan, iya bagi siswa mendapatkan materi pembelajaran teknologi terapan sebagai bekal untuk kelak diterapkan di dunia kerja,”tandasnya. +++ marthen/citranews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *