IHT, Bekal Menuju Peningkatan Kompetensi Pelayanan

Dra. SAFIRAH C. Abineno (ke-3 dari kanan) pose bersama para wakil kepala sekolah usai pemaparan materi Public Speaking oleh Frans Tiran. Doc.marthen radja/citra-news.com

In House Trainning (IHT) bagi guru bertujuan untuk pengembangan dan peningkatan kompetensi pelayanan pendidikan bagi peserta didik. Hal ini bisa dilakukan bila kepala sekolahnya memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap tuntutan dan perkembangan pendidikan saat ini.

Citra News.Com, KUPANG  – KEPALA Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 5 Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dra. SAFIRAH Cornelia Abineno mengatakan, para guru di SMKN 5 Kupang giat melakukan in house trainning (IHT) selama 3 (tiga) hari.

“Kegiatan IHT ini bertujuan untuk pengembangan dan peningkatan kapasitas (kompetensi) guru dalam melayani kebutuhan pendidikan khususnya bagi siswa di SMKN 5 Kupang. Ini penting dilakukan karena kurikulum pendidikan saat ini (Kurikulum 2013/K-13) lebih menekankan soal pendidikan karakter,”jelas Safirah saat ditemui awak media online/portal berita citra news.com di Kupang, Rabu 15 Juli 2020.

Menurut Safirah, pelaksanaan IHT dari tanggal 15-18 Juli 2020 melibatkan narasumber dari berbagai kalangan. Untuk pelaksanaan IHT ini SMKN 5 Kupang melibatkan para praktisi dari berbagai unsure. Didalamnya ada akademisi, BUMN (pihak perbankan), dari unsure pendidikan kami melibatkan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP)Provinsi NTT, serta dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi NTT.

“Ada beberapa hal yang menurut kami penting dimiliki para guru ASN di sekolah ini. Dalam hal public speaking contohnya, masih ada banyak guru yang tidak menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam pembelajaran. Atau hal lain seperti berkomunikasi dengan tamu yang datang di sekolah ini, kita guru kerap menampakkan ekspresi yang kurang ramah. Hal-hal seperti ini yang perlu kita mendapatkan penyegaran,”ucap Safirah.

Frans Tiran : Bahasa adalah Seni

Terkait public speaking, staf Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Frans Tiran mengatakan guru dalam menyajikan materi pembelajaran dituntut menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Lebih dari itu dari penuturan (komunikasi verbal) dua arah seorang guru diharapkan ada etika/norma yang sesuai dengan aturannya. Karena bahasa adalah seni dalam menyampaikan suatu maksud.

Frans Tiran (kanan) dan suasana penuh keakraban pada kegiatan IHT di SMKN 5 Kupang-NTT, Rabu 15 Juli 2020. Doc.marthen radja/citra-news.com

“Hanya saja kondisi pandemi Covid-19 saat ini komunikasi dua arah itu tidak terjadi. Atau jam tatap muka antara guru dan siswa untuk sementara waktu tidak terjadi. Walau demikian dalam penyajian meteri pembelajaran melalui Daring (online) harus juga mengikuti aturan atau norma berbahasa yang santun. Agar siswa bisa menyerap materi pembelajaran yang disampaikan secara baik,”kata Frans.

Materi public speaking  bagi guru mutlak diperlukan, sambung Frans, karena berkaitan dengan proses pembelajaran siswa di sekolah. Selain bermanfaat bagi siswa juga dalam berkomunikasi antar sesama (kehidupan sosial masyarakat). Dalam kehidupan sosial guru harusnya menjadi contoh dan panutan. Cara berbicara yang santun dan beretika dalam berkomunikasi.

“Saya diundang secara pribadi oleh ibu Kepala SMKN 5 Kupang sebagai narasumber dan membawakan materi public speaking. Hanya saja karena saya juga adalah ASN lingkup provinsi dan mengabdi di Biro Humas (hubungan masyarakat) sehingga tadi saya langsung menyiar di Radio Suara NTT. Jadi kita langsung praktekkan bagaimana berkomunikasi (berbahasa) yang santun, baik dan benar bagi khalayak,”jelas Frans.

Menjawab daya serap terhadap materi yang disampaikan, menurut Frans, kuncinya kembali ka masing-masing guru. Bagaimana dia mengaplikasikannya dalam tugasnya sebagai pendidik dan dalam kehidupan sosial masyarakat. +++marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *