Bangun Depot Arsip NTT Telan Dana 52 Miliar

Kupang, citranews.com – MEMILIKI bangunan yang representative untuk kepentingan penyelamatan semua dokumen resmi negara adalah tuntutan kebutuhan yang menjadi prioritas.  Meski demikian tidaklah mudah untuk bisa membangun gedung penyimpan dokumen negara dimaksud. Mengingat kemampuan APBD Provinsi Nusa Tenggara Timur yang sangat minim sehingga membutuhkan sharing dana dengan pemerintah pusat.

Hal itu dikatakan Kepala Dinas Arsip Provinsi NTT di Kupang, Kamis (05 April 2018).

“Dalam rencana membangun Depot Arsip kami hanya punya dana Rp 250 juta. Sehingga saya ajukan bantuan dana tambahan sekitar Rp 343 juta ke gubernur melalui TPAD NTT. Bila ini bisa terpenuhi maka bisa memenuhi prasyarat pengajuan dana sharing pemerintah pusat.  Karena pemerintah pusat sudah menyatakan kesiapannya menggelontorkan dana APBN senilai Rp 52 miliar. Itu berarti tahun 2019 kita sudah bisa membangun Depot Arsip NTT,”jelas Lamber.

Design sket gedung Depot Arsip NTT berlantai 5 ini, menurut dia, sudah dilakukan beberapa tahun lalu. Atau semenjak Flori Mekeng menjabat sebagai Kepala Badan Arsip Provinsi NTT. “Sampai saat saya menjabat harus bolak balik meyakinkan anggota DPRD NTT akan pentinganya sebuah gedung yang representative penyimpan dokumen negara. Itupun baru disetujui tahun 2017 kemarin. Ketika disetujui DPRD NTT saya ajukan ke pemerintah pusat sehingga disetujui dengan dana yang siap digelontorkan senilai Rp 52 miliar”.

Dalam mendukung eksistensi dan pengelolaan kearsipan ini, kata Lambert, tidak saja memiliki sarana dan prasarana yang memadai. Lebih dari itu adalah kesiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi keutamaannya. Sehingga tenaga arsiparis yang juga masih terbatas dan tersebar di SKPD-SKPD (satuan kerja perangkat daerah) tingkat provinsi perlu ditingkatkan, selain jumlah juga kualitas SDM yang dimiliki.

Dari segi jumlah, lanjut dia,  pada tahun 2015 total tenaga arsiparis di Pemprov NTT sebanyak 52 orang.  Mengingat pentingnya SDM pengelola kearsipan ini maka ada penambahan tenaga arsiparis pada tahun-tahun berikutnya. Tahun 2016 bertambah 6 orang, tahun 2017 bertambah 27 orang, dan 9 orang di tahun 2018. Sementara total tenaga arsiparis se-Provinsi NTT baru berjumlah 159 orang.  Kecuali Kota Kupang sampai dengan saat ini belum ada tenaga arsiparis.

Dari jumlah tenaga arsiparis yang ada pun tidak memiliki kompetensi sesuai tuntutan jaman. Sementara tenaga arsiparis jaman NOW, ungkap Lambert, harus menguasai IT. Nah, untuk menuju tenaga arsiparis  jaman now harus punya kompetensi. Oleh karena itu kami membuat terobosan-terobosan dengan melakukan uji kompetensi bagi para tenaga arsiparis yang tersebar di setiap SKP tingkat provinsi.

Sehingga pada awal tahun 2018 kita sudah melakukan uji kompetensi jabatan fungsional tingkat provinsi. Dengan jumlah peserta pada gelombang I (pertama) sebanyak 14 orang, dimana Dinas Arsip Provinsi NTT mendatangkan 2 Tenaga Assesor nasional non budget.  Kedua tenaga assessor nasional dimaksud, sebut Lamber, adalah Tamsir (Assesor Nasional) dan Iwan (Arsiparis Ahli Pertama)

“Iya benar apa yang dikatakan pak Lamber b           ahwa uji kompetensi ini dengan non budget. Meskipun demikian pengetahuan yang kami miliki akan menjadi pahala kalau dibagikan kepada banyak orang. Sehingga kami datang ke Kupang NTT utnuk memberikan Uji Kompetensi bagi 14 tenaga arsiparis yang ada.  Dalam kerangka NTT Menuju Era Merritokrasi System yang siap berkompetisi di bidangnya,”ungkap Tamsir. +++ cnc1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *