KELOR Jadi Tanaman ALEKROPING Lahan Kering

Anis : “Kami siap melaksanakan visi dan misi program pembangunan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT untuk 5 (lima) tahun ke depan. Saat ini Dinas Pertanian Provinsi  NTT tengah melakukan grand design pengembangan kelor tanaman pertanian lahan kering kepulauan”.

Kupang, citra-news.com – KEPALA Dinas Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Timur, Ir. Yohanis Tay Ruba, M.Si  mengatakan, dalam merancangbangun program pembangunan pertanian di Provinsi NTT, seperti  lazimnya kita sesuaikan dengan karakteristik wilayah dan kondisi alam di masing-masing daerah.

“Kondisi geografis NTT yang terdiri dari pulau-pulau memiliki musim kering (kemarau) lebih lama dari musim hujan. Meski demikian lingkungan alam yang berbeda-beda antara satu pulau dengan pulau lainnya menghendaki pemerintah dalam mengembangkan pertanian tanaman  pangan dan tanaman perkebunan. Ini lazimnya kita sesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah kepulauan yang ada. Sehingga harapan untuk pencapaian kesejahteraan rakyat bisa terwujud,”jelas Anis di ruang kerjanya, Senin 6 Agustus 2018.

Dengan mengikuti sprit pembangunan yang berkelanjutan dari pemerintahan sebelumnya, kata Anis, kami siap melaksanakan program yang disusun oleh Tim Akselerasi Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dan Yoseph A. Nae Soi.

“Kalau sebelumnya kami lebih cenderung focus membangun pertanian lahan basah maka ke depannya program-program prioritas pertanian lahan kering (tanaman perkebunan) yang juga sudah dilaksanakan pemerintah sebelumnya, dengan melakukan perluasan, pengembangan (diversifikasi), peremajaan, dan peningkatan produksi. Termasuk tanaman Kelor sebagai komoditi milik masyarakat NTT,”paparnya.

Menurut Anis, jika pemerintahan yang lalu pembangunan pertanian tanaman pangan dengan Upaya Khusus (Upsus) ‘PAJALE BABE’. Yakni pengembangan tanaman PAdi, JAgung, kedeLE, serta tanaman holtikultura dengan BAwang merah, bawang putih, dan CaBE. Dengan sinkronisasi program peternakan pada Upsus SIWAB (Sapi Induk Wajib Bunting). Sedangkan untuk prioritas tanaman perkebunan yakni kopi, kakao, cengkeh, vanili, kemiri, kelapa, dan jambu mete. Hal ini sejalan dengan Program Nasional Kedaulatan Pangan, tandasnya.

Nah ke depannya, lanjut Anis, Dinas Provinsi NTT akan membuat semacam ’Gerakan Pengembangan Tanaman Kelor’ secara massif. Pasalnya tanaman kelor ini multi manfaat untuk peningkatan gizi pangan keluarga. Apalagi tanaman kelor ini tidak mengenal musim dan cocok dengan kondisi geografis NTT. Oleh karena itu dalam grand design penganggaran (APBD Provinsi) dan arah kebijakan pengembangan pertanian lahan kering kepulauan maka tanaman kelor dimasukan sebagai salah satu kegiatan program.

“Kita men-design tanaman kelor ini sebagai tanaman alekroping atau tanaman lorong. Artinya disamping ada tanaman pangan dan tanaman perkebunan lainnya juga diantarai oleh tanaman kelor. Jika ke depannya semakin diminati masyarakat dan punya prospek pasar yang cukup baik maka kita lakukan pengembangan secara monokultur. Dimana di dalam satu hamparan di setiap kepulauan hanya dikhususkan tanam kelor saja,”ucap Anis.

Dia menambahkan, untuk pengembangan sector pertanian ini, pihaknya sudah mendapat arahan dari Sekda NTT, Ben Polo Maing dan Penjabat Gubernur NTT, Robert Simbolon untuk menyusun draft persiapan RPJMD yang disinergikan dengan program yang disusun Tim Akselerasi Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Viktor Laiskodat dan Yoseph Nae Soi.

Dalam mana komoditi-komoditi yang menjadi milik masyarakat (termasuk Kelor) ini, untuk dilakukan upaya-upaya penguatan dan percepatan program strategis jangka menengah daerah. Melalui perluasan, peremajaan, dan peningkatan produksi. Baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif yang berdaya saing. +++ cnc1

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *