KABAR Sesat di Balik Uang KOPERASI Guru SMKN 5 Kupang

Domi Wadu : Ada banyak guru di SMKN 5 Kupang yang masuk jadi anggota koperasi simpan pinjam (KSP). Ibarat seumur jagung KSP ini tidak bertahan lama. Akibat manajemen pengelolaan koperasi yang tidak transparan membuat koperasi ini bubar. Praktisnya uang anggota harus dikembalikan bukan?

Kupang, citra-news.com – SEIRING berjalannya waktu gema NTT Provinsi Koperasi pun terus meredup. Bahkan spirit ‘Anggur Merah’ (Anggaran Untuk Rakyat Menuju Sejahtera) besutan Gubernur Frans Lebu Raya dan Esthon Foenay (Wakil Gubernur/Wagub) dan dilanjutkan lagi dengan Wagub Benny Litelnony, spirit itu kini telah berubah haluan. Di periode kepemimpinan Viktor Bungtilu Laiskodat dan (Gubernur) dan Josef A.Nae Soi (Wagub) tahun 2018-2023, pasangan dengan tagline Victory Jos ini melejitkan spirit ‘NTT Bangkit Menuju Sejahtera’. Bila disejajarkan dengan fakta maka adalah tepat seperti ungkapan, Setiap Orang Ada Jamannya, Setiap Jaman Ada Orangnya.

Memaknai tekad NTT Provinsi Koperasi pada 10 tahun berlalu, lembaga koperasi terbangun dimana-mana. Selaksa tanpa sekat lembaga koperasi terus membaur di semua elemen masyarakat. Tidak terkecuali kelompok guru juga konon mendapat suntikan modal usaha dari pemerintah provinsi. Gelontoran dana sebesar Rp 250 juta per desa/kelurahan melalui Bank NTT selaku pengelola dana Anggur Merah. Syaratnya sederhana, masyarakat membentuk kelompok usaha ekonomi produktif (UEP). Jadi ada kelompok, ada usaha. uang ada.

Tapi apa lacurnya sejumlah lembaga koperasi yang terbangun saat itu kini sudah mati suri. Bahkan ada banyak lembaga koperasi yang mati benaran alias benar-benar mati. “Memang beda antara koperasi yang dibangun karena proyek pemerintah dengan koperasi yang dibangun karena inisiatif dan kesadaran diri akan asas kebebasan berserikat dan berkumpul. Lembaga koperasi yang berdiri jauh sebelum ada ‘proyek’ akan mampu bertahan. Seperti halnya Kopersi Obor Mas dan Kopdit Pintu Air di Maumere. Atau KSP Swastisari di Kupang dan lain-lain koperasi yang samapai saat ini terus eksis,”kata sumber yang meminta namanya tidak dipublikasi.

Terkait koperasi yang dibangun karena proyek pemerintah, salah satu faktanya adalah KSP di SMKN 5 Kupang. Dengan anggota koperasi adalah kelompok guru di sekolah kejuruan itu. Adalah Pelaksana Teknis Kepala Sekolah (Plt. Kasek) SMKN 5 Kupang, Asa M. Lahtang, S.Pd, M.Pd. Menurut dia terbentuknya koperasi di SMKN 5 Kupang sekitar tahun 2012.

“Memang benar kami di sekolah ini ada koperasi yang terbentuk tahun 2012 ketika pak Martinus Ronald jadi kapala sekolah. Saat itu terbentuk pengurus sementara koperasi. Dan saya ditunjuk jadi Ketua Koperasi Simpan Pinjam. Dengan harapan ke depannya bisa menjadi sebuah lembaga koperasi yang defintif,”kata Asa ketika ditemui awak media citra-news.com dan mediapurnapolri.id di ruang kerjanya, Sabtu 16 Maret 2019.

Sesungguhnya koperasi ini tidak mati, ungkap Asa. Tetapi terbentur dengan kendala kredit macet. Dan kalau mau dilihat belum laik dikatakan koperasi karena belum berbadan hukum. Meskipun belum berbadan hukum tapi tahun-tahun awal koperasi ini berjalan baik. Seiring tahun berjalan ada teman-teman guru inikan melakukan kredit di dua tiga Bank. Kadang dia kredit di Bank NTT lalu Bank BRI. Karena sebagai anggota koperasi beberapa guru menyimpan uang gajinya di koperasi karena langsung dipotong bendahara gaji.  Dan bendahara gajilah yang nantinya melakukan setoran ke Bank.  Praktis saja habis juga uang simpanan di koperasi ini.

Nah, tahun 2017 itu menjadi puncak permasalahannya. Dimana ada peralihan kewenangan urusan penanganan pendidikan tingkat SMA/SMK ke provinsi. Karena gaji guru langsung disetor melalui rekening masing-masing. Sementara sebelumnya ada guru pinjam uang koperasi. Lalu bagaimana caranya ka bisa potong gaji mereka. Berharap mereka setor? itu mustahil.

“Sehingga suatu waktu saya lakukan rapat bersama anggota koperasi. Dan perlu diketahui tidak semua guru jadi anggota koperasi. Kan kesadaran untuk berkoperasi itu bebas bukan kewajiban. Dalam rapat bersama ini semua bersepakat untuk bubarkan saja ini koperasi. Dan melakukan penagihan ke guru-guru yang belum kembalikan uang pinjaman koperasi,”jelas Asa.

Sembari menambahkan Bendahara yang dipercayakan bernama Anatji Bere Tai. Saya tidak tahu lagi apakah uang pijaman sudah dikembalikan atau belum. Saya juga belum cek lagi. Tapi silahkan ditanyakan ke ibu Anatji  saja. Tapi uang simpanan awal (Saham) dari anggota koperasi ini, semua guru kita sudah kembalikan.

“Siapa yang bilang uang koperasi belum kita kembalikan. Karena sejauh ini tidak ada pengaduan dari guru anggota koperasi soal uang saham bersama ini. Jangan masalah koperasi ini dimanfaatkan oknum guru yang bukan anggota koperasi, untuk menjelek-jelekan nama pengurus koperasi,”kata Asa.

Guru’ Kita Utamakan Yang Membutuhkan

Pada kesempatan terpisah, Domi Wadu Djami, guru Elektro pada SMKN 5 Kupang mengakui dirinya salah satu anggota koperasi.

“Saya ini salah satu korban akibat matinya ini koperasi. Uang simpanan koperasi yang dipotong dari gaji saya oleh bendahara sampai hari ini belum dikembalikan. Kalau Plt Kasek Asa Lahtang bilang sudah kembalikan uang koperasi, itu omong kosong. Dia (Asa Lahtang) bikin kabar sesat saja itu. Saya duga uang koperasi itu sudah kongkalingkong dengan bendahara mereka sudah ‘makan’ itu uang koperasi,”tegas Domi.

Menurut Domi, ada banyak ketimpangan terjadi di SMKN 5 Kupang pasca Asa Lahtang menjabat Plt Kasek. Dan ini karena warisan yang ditularkan dari Kasek Alex Giri. Ditambah lagi dengan begitu ambisiusnya dia mau jadi Kepala sekolah (Kasek). Dengan menghalalkan segala cara memuluskan jalan menuju kursi jabatan Kasek.

Ada banyak ketimpangan dalam menatalaksana SMKN 5 Kupang, sebut Domi, diantaranya membangun gedung dua lantai yang sampai saat ini belum PHO (project hand over). Bangun gedung berlantai dua itu saya (Domi) duga Asa Lahtang dan kroni-kroninya seperti Hunce Lapa (Wakasek Sarana Prasarana/Sarpras), Semar Radja Kota selaku Bendahara dana BOS dan guru yang lainnya, melakukan mark up biaya pembangunan gedung itu.

“Kalau soal uang koperasi, saya sudah berulangkali menagih ke dia (Asa Lahtang). Tapi pernah baru-baru ini dia panggil dan omong baik-baik dengan saya. Dia bilang guru  (dia biasa panggil saya guru karena memang saya jadi guru ajar dia nyetir mobil), uang koperasi kita kasih terlebih dahulu kepada guru yang betul-betul membutuhkan. Lalu saya bilang ah saya juga butuh. Kalau mau dihitung bunga dari uang pangkal saja sebesar Rp 250.000 maka sudah berbunga banyak selama 2012-2017 (5 tahun). Belum lagi uang simpanan yang lain-lainnya. Karena itu dia omong kosong kalau semua guru anggota koperasi uang mereka sudah kembalikan,”bebernya.

Saya sudah tidak peduli mau dimutasi atau dipecat sekalipun, tambah Domi. Saya tidak takut. Walau dia Plt Kasek dan besok-besok mungkin bisa jadi kepala sekolah dengan punya segudang relasi dengan para petinggi di Dinas P dan K Provinsi NTT. +++ marthen/citra-news.com

Gambar : Domi Wadu Djami (paling kiri) sedang mengawasi siswa Jurusan Teknik Bangunan di SMKN 5 Kupang, Provinsi NTT, Sabtu 23 Pebruari 2019.

Foto : Doc. CNC/marthen radja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *