Dokter Bernadine Bentuk Tim JUMANTIK Cegah Dini DBD

Hampir seluruh kota di Indonesia pemerintah dan masyarakat bahu membahu melakukan upaya cegah dini demam berdara dangue (DBD). Kuncinya melakukan kebersihan rumah dan lingkungan sekitar dari sampah yang berserakan.

Maumere, citra-news.com –  GIGITTAN nyamuk aedes aegypt mengakibatkan penderita terserang virus Demam Berdara Dangue (DBD). Jika terlambat penanganannya maka akan berakibat fatal atau kematian.

Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) salah satu kota yang ditetapkan sebagai KLB DBD (kejadian luar biasa demam berdarah dangue) adalah Kota Kupang. “Dengan semakin banyak korban jiwa akibat serangan DBD maka Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang menetapkan BDB sebagai Kejadian Luar Biasa. Itu berarti upaya penanganan DBD dilakukan secara intensif. Terutama upaya cegah dini DBD itu yang terpenting,”ucap Wakil Walikota Kupang, dr. Herman Man, di Kantor Walikota Kupang, beberapa waktu lalu.

Upaya pencegahan (tindakan kuratif) yang sama juga dilakukan di Kabupaaten Sikka. Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo menginstruksikan agar semua stakeholder intens melakukan upaya-upaya cegah dini. Dan bah Bupati Roby Idong-demikian ia akrab disapa, melakukan sistem peringatan dini (early warning system) ke seluruh instansi dan ASN serta para camat, kepala desa/Lurah agar senantiasa waspada dengan menjaga kebersihan lingkungan.

Mengeksekusi instruksi Bupati Roby, pada Senin 28 Januari 2019 Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, dr. Maria Bernadine Sada Nenu, MPH menyebutkan telah terdata 36 kasus positif DBD. Pihaknya juga terus melakukan sosialisasi kewaspadaan dan edukasi akan bahaya DBD di semua kecamatan. Dengan harapan agar pemerintahan kecamatan hingga RT/RW bahu-membahu melakukan upaya cegah dini DBD.

“Upaya cegah dini DBD ini kita lakukan melalui semacam Gerakan  Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 4 empat) M Plus. Yaitu Menutup – Menguras – Mengubur – Memantau plus mencegah gigitan nyamuk dengan mengimpliementasikan gerakan 1 rumah 1 Jumantik (Juru Pemantau Jentik),”terang Bernadine.

Petugas kesehatan di setiap jenjang, lanjut dia, terus melakukan pemantauan ke setiap kelurahan dan desa terhadap jentik nyamuk. Selain itu membagi secara gratis abate ke setiap rumah tangga, penyemprotan (fogging/pengasapan) secara menyeluruh ke setiap rumah tangga serta intens melakukan promosi hidup sehat.

Hingga Senin 28 Januari 2019 ada 4 (empat) kecamatan sudah dilakukan fogging, yaitu Kecamatan Kangae, Talibura, Kewapante, dan Kecamatan Alok.  Dari Camat, Marthen Luther Adji melaporkan tim kecamatan telah melakukan pemantauan  di 1.193 rumah positif jentik DBD dan negative jentik 97 rumah tangga di 9 desa.

“Kami juga sudah mengeluarkan instruksi agar para kepala desa (Kades) untuk perangi DBD. Juga meminta pastor paroki untuk mengumumkan melalui mimbar gereja akan bahaya DBD.  Dengan membersihkan sampah-sampah di masing-masing RT/RW, menguras bak tempat penampungan air, dan mengubur kaleng-kaleng dan gelas plastic bekas minuman,”ucapnya.

Disebutkan, sejauh ini ada 6 (enam) desa yang terkena kasus DBD. Masing-masing desa Watuliwung 2 kasus; Desa Tekaiku, Tanaduen, Watumilok, Kokowahor, masing-masing 1 kasus. Dan sudah dilakukan fogging dari Tim Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka yakni Desa Tekaiku, Tanaduen, dan di Desa Kokowahor. +++ amor/cnc

Laporan : Armando WS/CNC

Editor : marthen radja

Gambar : Waspada Nyamuk Aedes Aegypti penyebar virus DBD (Demam Berdara Dangue)

Foto : Doc. CNC/Kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *