IMIGRAN Afganistan MIGRASI ke Pangkal Pinang

Laksana setitik debu yang diterbangkan kemana-mana sesuai arah/alur angin (like the dush in the wind). Demikian juga alur kehidupan warga Imigran. Meskipun demikian tapi kebutuhan hidup mereka serba cukup nan mewah karena dibiayai oleh organisasi internasional, IOM (International Organization for Migration).

Kupang, citra-news.com – DATA menyebutkan dimana ada tempat penampungan kaum imigran disana ada persoalan sosial yang ditimbulkan. Sudah pasti ada kecemburuan (jelous) dari warga lokal. Karena terkait jaminan dan kebutuhan hidup keseharian. Para Imigran tinggal di hotel atau di lokasi penampungan yang representative bila tidak dikatakan mewah. Makan tiga kali sehari, minum susu pagi dan sore. Berlatih fitness sehingga badan mereka bagus-bagus. Dan di malam harinya menonton di bioskop.

Sementara masyarakat lokal di sekitarnya hidup dalam kemiskinan karena tidak kecukupan pangan, sandang, dan juga papan. Masyarakat lokal tinggal di rumah gubuk sederhana berlantai tanah. Sedangkan kaum imigran tinggal di hotel berlantai keramik. Sehingga hampir pasti ada kecemburuan social dan bisa saja menimbulkan gejolak social.

Menelisik tentang kehidupan kaum Imigran, Wakil Gubernur (Wagub) NTT, JOSEF A. Nae Soi punya pengalaman melihat secara langsung seperti apa dan bagaimana kehidupan kaum Imigran yang ada di Batam Kepulauan Riau.

“Saya punya pengalaman melihat langsung kehidupan kaum Imigran di Batam yang dibiayai oleh IOM. Mereka hidup cukup baik dan terjamin semua kebutuhan. Sedangkan masyarakat lokal hidup dalam kemiskinan. Dari pengalaman ini saya coba memandang dengan fakta yang sama di NTT ini. Jangan sampai masyarakat saya di NTT ini akan juga mengalami nasib yang sama dengan masyarakat di Batam,”ungkap Wagub Josef kepada wartawan di Gedung Perwakilan DPD RI di Kupang, Minggu, 14 Oktober 2018.

Pernyataannya itu dikemukakan usai membuka acara Dialog Publik dan Pelatihan Pendekatan Berbasis HAM untuk Implementasi Konvensi ASEAN Melawan Tindak Pidana Perdagangan Orang Khususnya Perempuan dan Anak-anak, yang diselenggarakan oleh IOM dan AICHR (ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights)

Disamping menangangi Imigran Afganistan yang ditampung di beberapa lokasi di Kota Kupang, jelas Wagub Josef, Provinsi NTT juga tengah gencar menangani masalah TKI asal NTT dan human trafficking (perdagangan manusia) utama perempuan dan anak-anak NTT.

“Mr. Mark Getchell, selain menangangani masalah TKI dan human trafficking, kami di NTT juga sedang menampung 430 imigran dari Afganistan yang ada di Kota Kupang. Untuk masalah ini mari kita berdikusi lebih dalam antara IOM dengan pemerintah daerah. Kita harus juga melihat masalah-masalah social yang terjadi di masyarakat saya di NTT ini.  Para Imigran ini hidup cukup terjamin. Mereka dijamin makan tiga kali sehari. Minum susu pagi dan sore. Pada sore harinya mereka fitnes dan malam hari mereka nonton di bioskop. Sedangkan rakyat saya di sekitar penampungan mereka nonton saja,”jelas Wagub Josef dalam sambutannya.

Menurutnya, antara IOM dan Pemerintah daerah harus duduk berdiskusi secara intens untuk mencarikan alternative-alternatif solusi mengenai tempat penampungan mereka yang pas. Dan kalau bisa di lokasi tersendiri yang jauh dari masyarakat lokal yang ada. Sehingga tidak menimbulkan efek social di masyarakat.

“Karena saya dengan pak VIKTOR (Gubernur NTT) sedang mencari jalan keluar yang terbaik untuk membangun permukiman. Salah satunya akan dibangun permukiman untuk warga Imigran yang ada ini kita rencanakan di Pulau Ndana Kabupaten Rote Ndao. Sehingga nantinya  para imigran yang ada di hotel Ina Boi dan di hotel lainnya atau di beberapa tempat penampungan di Kota Kupang ini, dipindahkan ke Pulau Ndana saja,”tandasnya.

Direncanakan dalam dua tahap, beber dia, yaitu tahap pertama kita mengirim 26 orang Imigran ini ke Pangkal Pinang. Dan tahap  kedua nanti karena APBD kita minim maka kita undang investor membangun permukiman di Pulau Ndana. Nanti IOM yang urus sudah disana. Jangan di Kota Kupang lagi yang masyarakat kita nonton kehidupan mereka yang serba terjamin.  Sementara rakyat kita hidup dalam kemiskinan. Masyarakat NTT dikategorikan TERMISKIN Nomor 3 di Indonesia.

“Iya, sudah termiskin nomor 3 Indonesia tapi kita menampung orang walaupun kita tidak kasih makan karena yang kasih makan itu IOM. Para Imigran inikan makan tiga kali sehari. Enak dong. Fitnes badan bagus-bagus, hidup di hotel, makan di restoran. Tapi masyarakat saya nonton saja. Iya tentu masyarakat kita jelous lah (cemburu). Karena itu kita migrasikan ke Pulau Ndana. Kita tidak usir mereka tapi kita tampung mereka di wilayah kita. Kalau kita usir mereka keluar kita juga yang salah. Kan UU menyatakan bahwa pemerintah daerah WAJIB untuk menyiapkan tempat penampungan. Iya tempat dimana terserah kita dong. Jangan tempat di kota,”paparnya.

Menjawab wartawan Soal lama tinggal para Imigran di penampungan apakah tidak ada semacan Perda atau Pergub yang mengatur tentang lama tinggal. Tegas Wagub Josef, Iya tidak bisalah. Ini hukum internasional dan kita harus tunduk dengan aturan secara internasional. Kita inikan hidup secara internasional dan nasional. Bahwa sesuai dengan isi UUD 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, melindungi segenap bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Itu artinya kita ikut aturan dunia. Bagaimana kita melanggar itu konvensi. Apalagi kita bikin Pergub soal lama tinggal kaum Imigran. +++ cnc1

Gambar : Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nae Soi (keenam dari kanan)  foto bersama Paul Liyanto (Anggota DPD RI); Mr. Mark Getchell (IOM); dan beberapa pejabat lingkup Pemprov NTT serta para pegiat Anti Human Trafficking di Gedung Perwakilan DPD RI, Kupang 14 Oktober 2018.

Foto : Doc. CNC /marthen radja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *