PERSOALAN Terbesar di NTT Adalah PERSAMPAHAN

Ir. FERDY J. Kapitan, M.Si ketika diwawancarai citra-news.com, Kamis 15 Agustus 2019. Doc.CNC/marthen radja.

Permasalahan persampahan seyogianya menjadi perhatian serius elemen masyarakat. Karena berdampak bagi lingkungan hidup terutama bagi manusia. Pemerintah Provinsi NTT menerbitkan Kebijakan Strategi Daerah untuk penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga.

Citra-News.Com, KUPANG – KEPALA Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ir. FERDY J. Kapitan, M.Si mengatakan, persoalan besar yang dihadapi pemerintah dan masyarakat saat ini adalah masalah persampahan.

“Untuk penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga, pemerintah Provinsi NTT saat ini menerbitkan  Jakstrada (Kebijakan Strategis Daerah). Selain itu kita focus memberi perhatian pada penanganan limbah B3 Medis (Bahan Berbahaya Beracun). Yang ditimbulkan dari pihak rumah sakit, Puskesmas, dan klinik-klinik,”jelas Fredy saat ditemui citra-news.com,  di ruang kerjanya Kamis 15 Agustus 2019.

Intinya bahwa penanganan sampah adalah kewajiban semua pihak, tegasnya. Pemerintah Provinsi NTT dalam hal ini Gubernur NTT, VIKTOR Bungtilu Laiskodat membuat kebijakan anggaran untuk mendirikan kelembagaan yang menangani pembakaran limbah medis tersebut.

“Iya di perubahan anggaran tahun 2019 kita  diberikan alokasi anggaran untuk mendirikan kelembagaan penanganan sampah medis. Melalui peralatan yang namanya Insenirator. Dengan peralatan yang ada ini kita berharap agar penanganan sampah medis ini juga dilakukan di kabupaten/kota. Bahkan di semua kecamatan atau dimana terdapat pusat-pusat pelayanan kesehatan,”kata Fredy.

Menurut mantan pejabat yang sudah melanglangbuana di beberapa OPD (organisasi perangkat daerah) Lingkup Pemrov NTT ini, pengadaan peralatan Insenirator pada tahap awal akan disebar ke wilayah Timor, Sumba, dan Flores. Kita di tahap pertama baru mau bangun di Kota Kupang, ibukota provinsi. Untuk tahap-tahap selanjutnya ke beberapa wilayah kepulauan lainnya Provinsi NTT.

Karena di tahap pertama ini belum terbangun, lanjut Fredy, maka saat ini kita terus berupaya dengan berkomunikasi secara intens dengan pihak-pihak terkait untuk sesegera mungkin menangani sampah medis yang sudah lama tertimbun.

”Penanganan yang segera sampah medis ini dipertegas lagi dengan kebijakan diskresi yang diterbitkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan sejak bulan Mei 2019. Dan kebijakan diskresi ini berlaku selama satu tahun. Terhitung sejak bulan Mei 2019 sampai dengan Mei 2020 yang akan datang. Kita harapkan setelah bulan Mei 2020 nanti kita sudah dapat menanganinya secara mandiri,”tuturnya.

Tahap Awal GRH dengan Swadaya

Dijelaskan Fredy, selain menangani bidang lingkungan hidup pihaknya juga tengah menggalakan tanaman kehutanan sebagai wujud dari Gerakan Revolusi Hijau (GRH) atau Go Green. Untuk pembangunan dan pengembangannya yang lebih massif maka dibutuhkan kolaborasi lintas instansi.

Ir. FERDY J. Kapitan, M.Si usai diwawancarai citra-news.com di gedng DPRD Provinsi NTT di bilangan Jalan El Tari Kupang, Mei 2019. Doc.CNC/marthen radja.

“Dalam kaitannya dengan visi NTT Bangkit Menuju Masyarakat Sejahtera, kami dari dinas ini tengah melaksanakan program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL). Kita memberikan perhatian bear untuk peningkatan ekonomi masyarakat melalui hasil-hasil hutan dan non hutan. Dengan kata lain tanaman-tanaman yang kita kembangkan tidak terbatas pada kayu-kayuan tetapi juga HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu),”katanya.

Berhubungan dengan HHBK, lanjut dia, beberapa tanaman seperti pinang, kemiri, dan beberapa komoditas yang non kayu untuk pengembangan madu. Sementara kayu-kayuan seperti mahoni, jati, cendana, dan beberapa jenis kayu lainnya terus kita lakukan rehabilitasi.

Di sisi lain juga dinas ini tengan menggalakan Ekowisata berbasis kehutanan. Patut disyukuri karena dalam pembahasan Badan Anggaran (Banggar) kita diberikan sedikit anggaran untuk pengembangan Ekowisata ke depan.

“Prospek pariwisata di NTT cukup baik sehingga kita sudah memulai swadaya dengan pengembangan Ekowisata di Kabupaten Manggarai Barat, Ende, TTU, TTS dan banyak tempat lainnya di NTT. Tapi khususnya di Perubahan Anggaran tahun 2019 kita coba men-design khusus di Kabupaten Manggarai Barat, Ende, dan TTU. Nantinya pada tahun-tahun mendatang kita kembangkan seluruh kawasan hutan yang ada kita kembangkan menjadi destinasi-dstinasi alternative. Selain 7 (tujuh) destinasi besar yang ada di NTT,”beber Fredy. +++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *