Ternyata, Mesin INSINIRATOR Sedang Proses Tender

Dr. SONNY Libing ketika diwawancarai awak media Online Citra-News,Com di Gedung Sasando Kantor Gubernur Provinsi NTT, di bilangan Jl El Tari Kupang-Timor, Senin 10 Pebruari 2020. Doc.CNC/marthen radja – Citra News.

Diperkirakan satu unit mesin Insinirator (mesin pencecar sampah limbah B3) baru akan beroperasi pada Juni 2020. Kendala proses pada ijin AMDAL yang membutuhkan kajian mendalam dan harus mendapat persetujuan dari Kemen LH RI. 

Citra-News.Com, KUPANG – ADANYA TUNTUTAN Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprov NTT) bahwa mulai tahun anggaran 2020 setiap unit kerja atau OPD (organisasi perangkat daerah) wajib mencari sumber-sumber baru pendapatan untuk menambah pundi-pundi PAD provinsi.

“Pada prinsipnya sumber PAD provinsi kita ini rendah. Sehingga pemerintah berinisiasi agar setiap OPD wajib mencari sumber-sumber baru guna memperoleh pendapatan. Dari pendapatan yang ada sebagiannya untuk kebutuhan operasional organisasi dan beberapa persennya untuk PAD kita. Jika tidak maka program pembangunan kita tidak bisa mencapai target yang ditetapkan,”ungkap Dr. SONNY Libing di Kupang, Senin 10 Pebruari 2020.

Kepala Badan Pendapatan dan Asset Daerah Provinsi NTT ini menjelaskan, tahun 2020 Pemrov NTT akan membangun usaha pengolahan limbah B3. OPD yang ditugasi untuk mengurusnya adalah Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi NTT. Mesin Inisinirator (mesin pencecar limbah B3) yang berasal dari rumah sakit, puskesmas, dan klinik-klinik, mulai dibangun di tahun 2020 ini.

“Yang pasti tahun 2020 ini mesin Insinirator harus beroperasi. Karena tidak saja dari aspek lingkungan untuk pengolahan sampah dan limbah B3. Akan tetapi juga ada PAD disitu. Karena setiap satu kilo limbah B3 dihargai sekitar Rp 25.000. Dan hampir setiap harinya rumah sakit, puskesmas, dan klinik-klinik yang ada bisa menghasilkan ribuan kilo limbah B3,”jelas Sonny.

Dia menuturkan, sau unit Mesin Insinirator pada tahun 2020 ini dibangun di wilayah Manuali 1 Kota Kupang. Pemerintah provinsi NTT melalui Dinas LHK Provinsi NTT secara teknis akan mengelola mesin Inseminator ini melalui UPT yang khusus mengelola sampah dan limbah B3.

Adanya mesin pencecar (Insinirator) memang sangat dibutuhkan di NTT, tegasnya. Oleh karena itu pemerintah provinsi mengalokasi dana APBD untuk pengadaan peralatan ini. Perlu diketahui untuk pengadaan mesin pencecar sampah dan limbah B3 pemerintah Provinsi TIDAK bekerjasama dengan pemerintah kabupaten/kota. Di Kota Kupang pemerintah provinsi menangani khusus limbah B3 dari setiap rumah sakit, puskesmas yang ada di Kota Kupang.

Dikatakannya, pengadaan mesin pencecar limbah B3 secara bertahap. Kalau tahun 2020 dilakukan di Kota Kupang untuk mengolah sampah limbah B3 dari semua rumah sakit, puskesmas, dan klinik di daratan Timor Barat.

“Nanti pengadaan selanjutnya untuk daratan Sumba, Flores, dan Alor. Tapi tahun 2020 ini Kota Kupang jadi pilot project pengolahan sampah limbah B3. Tahun 2021 pemerintah provinsi NTT akan bangun 2 (dua) unit mesin Insinirator di Flores. Masing-masing untuk wilayah Flores bagian Timur dan Flores bagian Barat. Dan tahun yang sama ini juga kita bangun di daratan Sumba satu unit mesin Insinirator. Mungkin untuk daratan Timor Barat kita tambah satu unit mesin Insinirator di perbatasan guna menampung limbah B 3 dari rumah-rumah sakit di Negara Timor Leste. Sedangkan untuk daratan Alor mungkin rencana ke depannya,”beber Sonny.

Sembari menegaskan tahun 2020 mesin Insinirator harus sudah mulai beroperasi. Karena selain untuk kebersihan lingkungan juga dari pengoperasian mesin Insinirator ini dapat menghasilkan PAD untuk daerah kita.

Praktisnya Mesin Insinirator Baru Beroperasi Juni 2020

Pada kesempatan terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kadis LHK) Provinsi NTT, Ir. FERDY J. Kapitan, M.Si melalui Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan RUDI Lismono menyatakan, tidak mudah mengoperasikan mesin Insinirator. Karena sangat membahayakan linhgkungan hidup dan manusia.

“Untuk bisa mengoperasikan mesin Insinirator tidak mudah. Karena dampaknya membahayakan lingkungan hidup dan mayarakat  sekitarnya. Oleh sebab itu kita perlu urus ijin AMDAL hingga ke Kementerian Lingkungan Hidup RI. Dan saat ini sedang berproses, termasuk kesiapan administrasi dan lokasi yang saat ini sedang dalam tahapan proses tender,”jelas FRANSISKUS Gaby Tola, Kepala Seksi (Kasi) Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas LHK Provinsi NTT.

Ir. FERDY J. Kapitan, M.Si didampingi RUDI Lismono (kiri) dan Kasi Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas LHK Provinsi NTT, FRANSISKUS Gaby Tola. Doc.CNC/marthen radja – Citra News.

Frans –demikian ia biasa disapa-mewakili Kabid Pembinaan Rudi Lismono, mengatakan hal ini di Kupang, Rabu 19 Pebruari 2020. Menurut Frans, niat baik dari Pemerintah Provinsi NTT untuk pengadaan Mesin Insinirator guna menjawab kebutuhan akan peralatan untuk pengolahan limbah B3 yang sangat berbahaya ini. Karena diketahui limbah B3 yang berasal dari rumah sakit, Puskesmas, dan Klinik selama ini diangkut bebas keluar daerah. Padahal hasil olahan limbah B3 ini mendatangkan penghasilan atau sumber PAD provinsi.

Frans menuturkan, selama ini beberapa rumah sakit di NTT memiliki mesin Insinirator. Namun tidak bisa beroperasi karena tidak mengantongi ijin dari Kemen LH RI. Atau karena adanya diskresi Kemen LH RI sehingga mesin Insinirator yang dimiliki itu tidak digunakan. Hanya ada satu unit mesin Insinirator yang dimiliki PT Surya Agro Gemilang (SAG) Semen Kupang. Itupun hanya diberi ijin selama satu tahun beroperasi, yakni sejak 16 mei 2019 hingga 16 Mei 2020.

“Memang ada mesin insinirator dimiliki beberapa rumah sakit di Kota Kupang. Diantaranya mesin Insinirator yang ada di RSUD W.Z Johanes Kupang, RSUD SK Lerik, RS Siloam, dan RSU Boromeus. Khususnyadi RSU Boromeus hanya dipakai untuk kalangan sendiri tapi mesin insinirator yang dimiliki beberapa rumah sakit lainnya tidak bisa beroperasi. Oleh karena tidak mengantongi ijin dari Kemen LH RI makanya mesin Insinirator di RSUD WZ Johanes Kupang dan di RSUD S.K.Lerik tidak bisa beroperasi,”jelas Frans.

Dengan adanya peluang ini maka Pemrov NTT berinisiasi untuk pengadaan mesin Insinirator. Ditargetkan pada tahun 2020 satu unit Mesin Insinirator segera beroperasi. Lokasi pembangunannya di Kelurahan Manulai 1 Kota Kupang. Dalam mana dikelola oleh UPTD Pengolahan Sampah Limbah B3 dengan paket kegiatannya sedang dalam proses tender.

“Diperkirakan sekitar Juni 2020 mesin ini sudah beroperasi. Ini bertepatan dengan masa berakhirnya pengoperasian mesin Insinirator yang ada di PT Semen Kupang (SAG). Pada tahun berikutnya Pemrov NTT juga akan bangun 3 unit lagi di tiga Zona. Yakni di Flores Barat direncanakan ditempatkan di Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat. Dan satunya lagi di wilayah tengah atau timur Flores. Serta satu unit Mesin Insinirator dibangun di daratan Sumba,”tandasnya.

Sembari menambahkan, ada pertimbangan-pertimbangan spesifik hingga dibangunnya Mesin Insinirator menggunakan zona. Tujuan utamanya agar sampah limbah B3 dari rumah sakit, Puskesmas, dan dari klinik-klinik yang ada tidak dibawa keluar provinsi. Karena hasil olahannya bisa menambah PAD provinsi.

Menjawab nilai investasi satu paket pembangunan Mesin Insinirator di Kota Kupang, sebut Frans, sekitar Rp 6,420 juta. Diantaranya terdiri dari satu unit IPAL (instalasi pengolahan air limbah), satu nit TPS (tempat penyimpanan sementara limbah B3), Cool storage (mesin pendingin), dan beberapa fasilitas lainnya. +++ marthen/citra-news.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *