FRANS Minta UANG 400 Juta HEREWILA Lapor POLISI

Gugatan Ingkar Janji yang dilakukan Alex Frans terhadap Kudji Pellokila Herewila, membuat hubungan antara Kuasa Hukum dan Klien itu menjadi tidak harmonis. “Dari awal tidak ada perjanjian bahwa saya harus bayar honor dan sucses fee Rp 400 juta,”tegas Herewila.

Kupang, citra-news.com – ADALAH Ir. Kudji Pellokila Herewila, M.Si (klien) membuat laporan polisi bahwa telah terjadi dugaan tindak pidana penghinaan dan pencemaran nama baik,  yang dilakukan Alex Frans, SH (kuasa hukum)  melalui media social (face book).

“Ini surat laporan saya ke Polda NTT pada hari Jumat tanggal 8 Juni 2018. Dan pada hari yang sama juga pihak Polda NTT dalam hal ini yang menerima laporan saya ini adalah BANIT SUBDIT IV EKSUS dan ditandatangani HAMUD A DJ. ALAKATIRI. Karena apa yang dilakukan Alex Frans , SH sudah keterlaluan. Saya dihina, dicacimaki melalui media social face book,”ungkap Herewila

sembari menunjukkan kepada wartawan copyan setebal 13 halaman sebagai bukti cuitan Alex Frans melalui Face book dimaksud.

Dalam temu pers yang digelar di Kupang, Kamis 9 Agustus 2018 itu Herewila selaku Pemberi Kuasa, memboyong 6 (enam)  orang Penerima Kuasa untuk dapat melakukan segala perbuatan hukum dan tindakan hukum yang dipandang perlu dan berguna bagi kepentingan Pemberi Kuasa. Sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Salah seorang Penerima Kuasa, Yohanis D. Rihi, SH kepada citra-news.com menjelaskan, permasalahan ini berawal dari saudara Alex Frans (AF) membela perkara tanah warisan dari tiga tergugat. Masing-masing Tergugat I atas nama Ir. Kudji Herewila, M.Si alias Kudji Rame Herewila (62); Haga Rame Herewila (59) sebagai Tergugat II; dan Bani Yuliana Rame Herewila alias Bani Rame Herewila (55) sebagai Tergugat III.

Kronologis masalah perkara perdata tanah warisan itu, lanjut John Rihi, konon pada Februari tahun 2014 saudari Kudji Herewila  meminta AF untuk menjadi Kuasa Hukum untuk membantu menangani kasus sengketa pembagian tanah wariasan di Tarus Kabupaten Kupang. Namun sebelum gelar perkara terjadi tawar-menawar biaya atas jasa pendampingan AF sebesar Rp 30 juta. Dan dalam perkara di Pengadilan Negeri (PN) Oelamasi itu Kudji Herewila, Cs MENANG.

Demikian halnya ketika panjat banding di Pengadilan Tinggi (PT) Kupang dan perkara di tingkat Kasasi Mahkamah Agung (MA) Kudji Herewila, Cs pun tetap menang.

Tapi untuk ambil putusan di MA harus cabut dulu kuasa dari AF. Tujuannya agar Kudji Herewila, Cs bisa mengambil putusan dari MA itu. Nah, setelah Kudji Herewila, Cs mengirim Surat Pencabutan Kuasa itu, rupanya  AF tidak puas. Lalu melontarkan kata-kata melalui media social dan media massa yang dinilai klien saya adalah kata-kata fitnah dan ujaran keberncian.

Bahwa Kudji Herewila belum membayar honorarium AF pada 3 (tiga) tingkatan peradilansenilai Rp 100 juta. Kemudian Suceses Fee Advokad 10 persen dari nilai jual dua obyek sengketa itu sebesar Rp 300 juta. Bahkan melalui media social AF mengancam  jika dalam tempo 7 x 24 jam tidak dibayar maka AF akan menempuh jalur hukum.

Dan benar AF gugat dengan melayangkan Gugatan Ingkar Janji (One Prestasi) ke Ketua PN Kelas I A Kupang. Padahal honr dan sucses itu tidak ada kesepakatan sebelumnya. Yang disepakati adalah Kudji Herewila membayar AF selama penanganan perkara tanah itu sampai selesai sebesar Rp 30 juta.

Membenarkan pernyataan John Rihi, Dosen Undana ini kemudian menambahkan, “Itu uang Rp 30 juta yang minta dia (Alex Frans/AF). Dan saya sudah kasih. Cuma waktu itu salah saya juga tidak kasih kwintansi. Tapi saya ada saksi anak saya waktu kasih uang Rp 30 juta ke AF. Dan AF juga tidak kasih kwitansi tanda terima. Kemudian AF minta saya harus kasih uang honor Rp 100 juta dan sucses fee Rp 400 juta lagi? Kalau dari awal AF omong ada honor ada sucses fee, saya ‘titik’ dengan dia (AF) karena tidak wajar”.

Sementara dalam kasus perdata pencemaran nama baik dalam media social face book dan media cetak lokal ini, tegas John Rihi, selaku Kuasa Hukum Ir. Kudji Herewila, Cs.

“Iya, ini sesungguhnya kasus pencemaran nama baik di face book. Kemudian kilen saya ini merasa ini fitnah dan ujaran kebencian melalui media social dan media cetak lokal NTT. Kemudian Kudji Herewila membuat laporan polisi dalam hal ini Ditreskrimsus Polda NTT pada tanggal 8 Juni 2018. Bukti laporan Kudji Herewila ini Polda NTT membuat Surat Tanda Penerimaan Laporan/Pengaduan Nomor : STPLI/57/VI/2018/Ditreskrimsus, tanggal 8 Juni 2018. Dan perkaranya sementara jalan,”jelas John Rihi.

Dia menambahkan, sementara perkara pencemaran nama baik ini di Polda NTT, kemudian AF buat gugat perdata  yakni Gugatan Ingkar Janji ke PN Kelas I A Kupang, terkait honornya yang belum dibayar itu. Bahwa honornya AF sebesar Rp 100 juta itu hingga saat ini belum dibayar. Juga sucses Fee Rp 300 juta. Jadi total Rp 400 juta Kudji Herewila harus segera bayar ke AF.

Ini tertuang dalam surat Alex Frans dan Rekan dengan Nomor 25/ALF-PH.HWI/V/2018, tanggal 4 Juni 2018, perihal: Pembayaran Honorarium dan Sukses Fee Advokad Alex Frans dan Rekan. Padahal kata John Rihi, semuanya ini TIDAK ADA perjanjian sama sekali.  +++ cnc1

 Gambar : Yohanis D. Rihi, SH (ke-4 dari kiri) saat memberikan keterangan pers terkait Gugatan Ingkar Janji Ir. Kudji Pelokila Herewila oleh Alex Frans, SH. Doc. Marthen Radja/CNC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *